Wednesday, September 27, 2023

Krisis Multi Dimensi Akibat Memanasnya Tensi Geopolitik Dunia


Gambar: Pagertoyo (Ilustrasi Perubahan Iklim)

Para ahli ekonomi berkata bahwa dunia semakin memburuk dari hari ke hari, krisis multidimensi pun terjadi. Salah satu krisis yang paling dikhawatirkan oleh para ahli adalah krisis iklim. Krisis iklim ini akan menimbulkan krisis lainnya seperti krisis pangan, krisis ekonomi dan krisis kesehatan dunia. Mengapa bisa demikian? Karena jika iklim dunia semakin memburuk, karena berdasarkan pernyataan terbaru dari PBB, bahwa saat ini dunia sudah menghadapi era pendidihan global, karena suhu bumi mencapai rekor panas tertinggi di Tahun 2023 ini. Dengan suhu bumi yang semakin tinggi, maka akan ada gagal panen di berbagai sektor pertanian, jika gagal panen maka akan terjadi krisis pangan dunia dan akan mengikut krisis krisis lainnya seperti kelaparan, bahkan sampai peperangan karena terbatasnya ketersediaan pangan.

Masalah utama yang di hadapi oleh dunia saat ini adalah perubahan iklim yang ekstrim, akibat dari emisi karbon yang sudah di luar ambang batas. Kita melihat sendiri bencana di mana-mana, baik banjir, badai dan intensitas nya meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Inilah yang dikatakan oleh para pakar bahwa krisis multi dimensi akan terus terjadi, dan semakin memburuk.

Lantas bagaimana solusi nya? solusi nya adalah negara-negara harus bersatu, dan hentikan konflik dan peperangan antar negara. Jika konflik geopolitik terus terjadi, maka kita akan kehilangan fokus untuk menyelesaikan masalah yang sesungguhnya yakni perubahan iklim, dimana saat ini bukan lagi era pemanasan global, namun saat ini kita menghadapi era pendidihan global (boilling era)

Negara-negara maju harus mengambil inisiatif, untuk menciptakan tatanan dunia yang kondusif dan damai. Negara maju harus membantu negara-negara berkembang untuk mengurangi bahan bakar yang menghasilkan emisi karbon. Jangan seperti saat ini, geopolitik semakin memanas, baik karena perang Rusia dan Ukraina, maupun persaingan antara Amerika Serikat dengan Cina, yang juga menyeret konflik dengan Taiwan. Bahkan, saat ini juga terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina, dan juga Eropa dengan Cina, masing-masing saling menghambat yang pada akhirnya banyak orang yang terkena dampaknya.

Semoga dunia semakin sejuk, dan semua negara berinisiatif mengurangi tensi geopolitik yang semakin memanas, sehingga dunia dapat bekerja sama membantu mengurangi dampak perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.

Monday, September 25, 2023

Artificial Intelligence Bagai Pedang Bermata Dua

 

Gambar: BPK RI

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) akhir-akhir ini begitu pesat, AI berkembang di berbagai lini seperti di bidang kedokteran, pendidikan bahkan di dunia hiburan atau perfilman atau pun kontent kreator Youtube. Chat GPT adalah salah satu contoh yang sangat populer saat ini, bagaimana fungsi kecerdasan buatan ini dapat membantu kita bertanya tentang segala  hal, mirip dengan fungsi mesin pencari google namun lebih spesifik dalam melaksanakan perintah manusia. Di bidang kedokteran misalnya, Artificial Intelligence dapat mendiagnosa penyakit dengan lebih cepat dan tepat. Dalam dunia konten creator, para Youtuber pun di manjakan dengan berbagai aplikasi untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, dari mulai editing video, gambar dan suara yang lebih cepat dan efektif. Sebut saja aplikasi Pictory AI atau Canva, yang dapat membuat video dengan sangat cepat dengan script video yang sudah kita siapkan tentunya. 

Perkembangan Artificial Intelligence tentu saja membuat manusia lebih produktif dalam melakukan pekerjaannya, namun perkembangan artificial intelligence ini bukan tanpa masalah dan kritik. Beberapa tokoh besar di bidang teknologi sebut saja Bill gates dan Elon Musk, mereka mengatakan bahwa jika perkembangan artificial intelligence atau kecerdasan buatan ini tidak di barengi dengan pengawasan dan aturan yang ketat, maka akan menimbulkan boomerang bagi manusia itu sendiri. Bahkan seorang perintis artificial intelligence yang bernama Geoffrey Hinton, yang adalah seorang mantan karyawan Google yang merintis artificial intelligence dari awal, mengatakan perkembangan artificial intelligence begitu mengkhawatirkan, karena tidak di imbangi dengan aturan atau rambu-rambu bagaimana orang menciptakan dan menggunakan kecerdasan buatan tersebut. 

Berbagai kekhawatiran oleh para tokoh teknologi tersebut bukan tanpa alasan, lihat saja saat ini sudah banyak dampak yang sedikit banyak membuat kita khawatir. Beberapa tindakan kriminal akibat penggunaan AI ini sudah mulai kita rasakan, misalnya adanya manipulasi figur tertentu, yang dibuat oleh program AI ini. Misalnya aplikasi Deep Fake, yang dapat membuat figur tertentu yang mirip dengan seseorang, dan dapat di buat seolah-olah figur tersebut melakukan hal yang negatif misalnya, yang tujuannya memojokkan figur tersebut, seolah-olah adalah pelaku kriminal. Deep Fake sangat bisa terjadi di masa-masa kampanye politik mendekati pemilu, yang tujuannya ingin memojokkan citra politisi tersebut. Di Eropa sendiri sempat melarang Chat GPT beroperasi di wilayah Eropa khususnya Italia, pelarangan tersebut dikarenakan Chat GPT memberikan informasi yang salah terhadap figur tertentu yang cenderung negatif, dan melanggar privasi orang tersebut. Pada akhirnya Italia kembali memperbolehkan Chat GPT beroperasi, dengan syarat yang cukup ketat, misalnya pembatasan umur bagi penggunanya.

Itulah sederet masalah yang di timbulkan akibat massive nya perkembangan AI tersebut, disamping banyak juga manfaat yang besar dari kecerdasan buatan tersebut. Bagaimana sikap kita terhadap perkembangan artificial intelligence yang begitu pesat? menurut saya kita perlu belajar dan mengikuti perkembangan artificial intelligence, dan juga memahami dampak yang akan kita terima jika menggunakan AI tersebut, sehingga kita tetap waspada agar terhindar dari dampak negatifnya.

Memang perkembangan Artificial Intelligence bagai pedang bermata dua, disamping manfaat nya yang begitu besar, namun ada konsekuensi yang kita terima dengan perkembangan AI tersebut. Yang penting adalah kita tidak anti terhadapa kemajuan teknologi, namun memanfaatkan nya untuk kebaikan umat manusia dan tetap waspada tentunya.

Mobil Listrik Cina Bikin Ketar Ketir Eropa


Gambar: Kompas.com

Uni Eropa mulai khawatir dengan perkembangan mobil listrik Cina, hal ini di karenakan penjualan mobil listrik Cina semakin mengungguli mobil listrik asal Eropa. Presiden Uni Eropa Ursula Von Der Leyen mengatakan bahwa penyelidikan akan di lakukan untuk mencari tahu apakah ada kecurangan yang di lakukan Cina sehingga harga mobil listrik Cina jauh lebih murah dari electri vehicle (ev) asal Eropa. Sementara Cina dalam pernyataan nya mengatakan bahwa mereka menolak keras tuduhan dari Uni Eropa yang mengatakan bahwa ada proteksionisme dan subsidi oleh pemerintah Cina sehingga harga ev Cina lebih murah. 

Murah nya mobil listrik Cina juga membuat ketar-ketir produsen mobil listrik asal Amerika Serikat yakni Tesla, hal ini membuat Tesla juga terpaksa memangkas harga mobil listriknya yang di jual di Cina. Sebagai contoh, Tesla membandrol mobil listrik model Y Long range dengan harga 299.000 Yuan, harga tersebut di turunkan sebesar 14.000 Yuan dengan harapan dapat bersaing dengan mobil listrik Cina (dilansir dari detik.com)

Sementara untuk pasar di Indonesia, produsen Wuling juga mulai membanjiri pasar di Indonesia. Sebagai contoh, mobil Wuling Air EV bisa di jual dengan harga Rp. 200 juta. Salah satu keunggulan dari mobil EV Cina adalah walaupun harga nya cenderung terjangkau dan murah di bandingkan dengan produsen lain seperti Eropa serta Amerika Serikat, namun fitur-fitur mobil listrik Cina tidak kalah canggih dan lengkap di banding mobil asal Eropa dan Amerika Serikat.

Mobil listrik memang mulai menggeliat di pasar-pasar dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia pun saat ini sedang memperbanyak kendaraan listrik terutama untuk transportasi umum maupun pribadi agar mengurangi tingkat polusi yang semakin menggila di Jakarta. Kendaraan listrik roda dua seperti motor, juga di berikan insentif atau potongan pajak. Hal ini di lakukan agar menarik minat konsumen membeli motor listrik tersebut, sehingga dengan harapan dapat mengurangi jumlah peredaran motor kendaraan berbasis karbon yang menimbulkan polusi udara.

Semoga produsen mobil listrik dapat terus berkembang di Indonesia, terutama untuk kendaraan tranportasi umum, dengan harapan dapat mengurangi tingkat polusi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. 





Saturday, September 23, 2023

Waspada Berita Hoax di Tahun Politik

 

Gambar: Kumparan.com

Mendekati pemilu tahun 2024, semakin banyak beredar berita-berita hoax terutama untuk menyerang lawan politik. Yang terbaru adalah berita yang beredar bahwa Menhan Prabowo Subianto dikatakan menampar wakil Mentan saat rapat kabinet bersama Presiden Jokowi. Namun berita tersebut langsung di bantah oleh Presiden Jokowi, dan mengatakan bahwa berita itu tidak benar. Presiden Jokowi juga berpesan agar kita waspada terhadap segala berita yang beredar, terutama berita yang berbau politik di tahun politik ini.

Berita hoax amat berbahaya, jelang pemilu para pendukung masing-masing calon nya akan menggunakan segala cara untuk memenangkan tokoh dukungannya. Apalagi saat ini perkembangan Artificial Intelligence semakin canggih, yang bisa di gunakan sebagai alat kampanye baik untuk mensosialisasikan program maupun menyerang lawan politik nya. Sebut saja salah satu aplikasi Artificial Intelligence seperti Deep Fake, dimana aplikasi tersebut dapat menirukan tokoh baik suara maupun wajah sang tokoh tersebut. Hal ini sangat berbahaya, bisa saja menimbulkan fitnah atau black campaign yang merugikan tokoh politik yang menjadi korban. 

Salah satu tokoh pencetus Artificial Intelligence yakni Geoffrey Hinton, Geoffrey adalah mantan seorang insinyur Google yang merintis Artificial Intelligence dari awal, bahkan dia disebut sebagai God Father Artificial Intelligence. Beliau mengatakan bahwa perkembangan artificial intelligence yang berkembang sangat pesat, bisa menimbulkan boomerang bagi manusia itu sendiri. Beberapa dampak negatif nya bisa saja berita hoax dengan adanya program deep fake, informasi yang tidak benar dan kejahatan perbankan.

Salah satu cara agar kita tidak menjadi korban informasi yang salah atau hoax, adalah selalu melakukan cek dan ricek atau verifikasi dengan sumber berita yang kredible. Mencari tahu melalui media mesin pencari seperti Google Search juga bisa di lakukan, dalam mencari fakta yang sesungguhnya. Jangan langsung men share berita dari sumber yang tidak jelas, agar berita hoax tersebut tidak semakin tersebar.

Berita hoax akan merugikan orang yang menjadi korbannya, bahkan lebih jauh bisa terjadi konflik sosial jika itu melibatkan informasi SARA yang sangat sensitif. Karena itu, sudah sepatutnya kita menjadi penerima informasi yang cerdas dan bijak sana dan kritis agar tidak menjadi korban berita hoax yang bisa merugikan kita sendiri dan orang lain.


Pemilih Primordial dan Pemilih Rasional di Indonesia


Foto: Artikula.id

Pemilihan umum tak terasa sebentar lagi akan kembali hadir, setelah dua periode penuh presiden Joko Widodo menjalankan roda pemerintahan. Banyak pengalaman berharga yang kita dapat dari pemilu sebelumnya tersebut, bagaimana para kontestan yakni Joko Widodo bersaing dengan Prabowo Subianto untuk mencapai karir politik tertinggi mereka, yang pada akhirnya di menangkan oleh Pak Joko Widodo yang juga sukses mengalahkan Prabowo Subianto selama dua kali pemilu berturut-turut.

Jika kita melihat karakter para peserta pemilu di Indonesia, maka paling tidak secara garis besar atau secara umum ada dua tipe pemilih di Indonesia, yakni pemilih rasional dan pemilih tradisional atau primordial.

Tipe pemilih pertama adalah pemilih rasional, pemilih rasional ini lebih kepada memilih karena alasan-alasan logis, misalnya berdasarkan visi, misi dan track record atau rekam jejak tokoh politik tersebut. Tipe pemilih seperti ini sifatnya sangat kritis dan penuh pertimbangan, walaupun ada penilaian subjektif juga, misalnya kesamaan suku, gender atau bahkan agama, namun sifatnya tidak dominan. Kebanyakan pemilih rasional adalah di dominasi oleh anak-anak muda yang pemikirannya cenderung kritis, melek teknologi dan informasi. Menurut informasi yang di ambil dari the indonesianinstitute.com, bahwa data statistik pemuda indonesia tahun 2021 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 95,57 persen pemuda menggunakan smartphone selama tiga bulan terakhir. Selain itu terdapat pula 22,19 persen pemuda yang menggunakan komputer dan 90,17 persen pemuda menggunakan internet selama tiga bulan terakhir. Rentang usia dari pemuda tersebut bervariasi dari 17 sampai 30 tahun. Dari data tersebut, jelas bahwa para pemuda yang bisa disebut masuk generasi Y(Millenial) atau gen Z atau dibawah generasi milenial/lebih muda, mereka inilah yang memiliki akses informasi terhadap seluk-beluk capres tersebut, dari mulai visi, misi dan juga rekam jejak para politikus atau calon pemimpin yang akan di pilih. Jelas disini kesimpulannya adalah bahwa para pemilih rasional ini di dominasi oleh para pemuda yang berpendidikan, dan melek teknologi. 

Tipe pemilih kedua adalah pemilih Primordial atau bisa di sebut pemilih politik identitas. Pemilih seperti ini lebih cenderung memilih atas dasar kesamaan agama, suku dan juga cara pandang tradisional lainnya. Pemilih seperti inilah yang menurut saya saat ini lebih mendominasi pemilih di Indonesia. Mengapa demikian, jika kita berkaca dari pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 yang lalu, dimana Anis Baswedan terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Kemenangan Anis Baswedan saat itu di tengarai menggunakan politik identitas atau agama, yang hampir saja terjadi gesekan atau konflik horizontal sesama warga Jakarta bahkan eskalasi nya meningkat juga di berbagai daerah di Indonesia. Saat itu lawan politik Anis Baswedan adalah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Namun Ahok kalah tipis dari Anis Baswedan.

Berkaca dari pengalaman pemilu yang sudah-sudah, maka jika kita ingin mendapatkan pemimpin yang berkualitas, maka para pemilih di Indonesia haruslah memilih berdasarkan visi, misi, dan rekam jejak calon pemimpin tersebut. Dengan kata lain, jika Indonesia ingin maju, maka politik identitas harus segera di tinggalkan untuk mendapatkan pemilih yang berkualitas.

Walaupun saat ini pemilih primordial atau pemilih identitas masih mendominasi, lambat laun pasti jumlahnya akan semakin berkurang, seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan Indonesia dan semakin mendominasinya generasi Z yang berpendidikan dan melek teknologi dan informasi. Tugas para politisi jugalah untuk mendidik rakyat Indonesia agar meninggalkan politik identitas, bukan hanya meraih kekuasaan. Para politisi harus memberi contoh, yakni berkampanye berdasarkan visi, misi dan rencana yang logis untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju. 

Semoga di pemilu tahun 2024 yang akan kita songsong tahun depan, kita semua yang memiliki hak pilih, memilih calon pemimpin berdasarkan ketajaman visi, misi dan rekam jejak calon pemimpin tersebut untuk Indonesia maju. 

Friday, May 14, 2021

Tips Bertahan dalam Kepungan Virus Corona

Sudah dua tahun dunia dilanda virus Korona, dampaknya luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Dari mulai kehilangan nyawa, sampai ladang pekerjaan yang hilang. Secara psikologis, banyak juga laporan penelitian yang mengatakan bahwa tingkat stress akibat terkurung dalam rumah sebagai dampak dibatasinya pergerakan manusia, membuat banyak orang stress. Bagi dunia pendidikan, khusus nya di Indonesia, banyak yang tidak siap untuk beradaptasi dengan efek dari virus korona. Bagaimana tidak, dunia pendidikan Indonesia belum siap dengan teknologi pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh sangat membutuhkan keahlian yang khusus, baik dari segi sumber daya manusia nya, yang harus mempunyai keahlian, bagaimana pengajar bisa menerangkan secara efektif dan efisien untuk murid nya. Kesiapan teknologi juga harus mumpuni, seperti tersedianya jaringan internet, peralatan yang memadai untuk guru dan juga murid.
Itulah beberapa dampak yang terjadi akibat pandemi virus korona, manusia di tuntut terus berfikir untuk bertahan dalam kepungan virus.
Corona Virus
Sampai saat ini, belum ada obat yang secara efektif menyembuhkan orang yang terinfeksi virus korona, yang ada adalah meringankan dan menyembuhkan dampak dari gejala virus korona tersebut.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat, membuat para ahli kesehatan dan epidemiologi mampu membuat vaksin untuk menangkal virus korona masuk ke tubuh manusia. Walaupun tidak sempurna atau bersifat kedaruratan, namun vaksin di klaim mampu menurunkan, bahkan membuat manusia kebal dari virus korona. Berbagai vaksin bermunculan dari berbagai negara, mulai dari Cina yang menjadi awal dari pandemi menurut para ahli kesehatan. Cina berhasil membuat vaksin Corona seperti Sinovac, yang di klaim menciptakan tingkat efikasi atau kemampuan tangkal mencapai 65 persen, lalu Sinopharm yang tingkat efikasinya mencapai 70 persen. Lalu ada lagi vaksin Pfizer yang merupakan kerjasama dari perusahaan bioteknogi Jerman (BioNTech) dan perusahaan farmasi Amerika (Pfizer) yang di klaim memiliki tingkat efikasi hingga 90 persen, dan dipakai di berbagai negara Eropa dan Timur Tengah. Banyak lagi vaksin yang bermunculan, tentu dengan tingkat efikasi dan efek samping yang berbeda.

Distribusi Vaksin tersebar secara tidak merata, bahkan ada laporan dari Eropa bahwa vaksin di kendalikan oleh mafia demi keuntungan pribadi, seperti di Italia. Kita lihat dari pemberitaan, bahwa sebagian besar negara yang mendapat vaksin adalah negara maju, yang memiliki dana dan kemampuan teknologi. Sedangkan negara miskin, banyak yang belum mendapatkan akses vaksin. 
Kita ketahui, agar terjadi kekebalan kelompok (herd imunity), jumlah penduduk yang harus di vaksin adalah sekita 70 persen dari jumlah total penduduk. 
Di Indonesia, sejak tulisan ini di buat, orang yang sudah di vaksin di indonesia menjapai 7-8 juta penduduk, masih sangat jauh dari 70 persen untuk mencapai herd imunity.

lalu bagaimana cara untuk bertahan dalam kepungan virus korona. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, untuk bertahan di kondisi pandemi ini.
Pertama, seperti anjuran pemerintah, kita harus melakukan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Sebisa mungkin menghindari kerumunan, yang dapat menyebarkan penularan virus.
Kedua, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Dengan berdoa dan bersyukur maka akan timbul perasaan tenang, bersyukur, sehingga menghindari stress yang dapat menurunkan kekebalan tubuh untuk melawan virus.
Kekuatan terbesar ada di Tangan Tuhan, yang memiliki kuasa transedental yakni di luar kemampuan nalar manusia, dengan meminta pertolongan Tuhan agar terhindar dari virus korona. Namun demikian, kita juga harus mengikuti panduan ilmu pengetahuan, sebagai usaha kita untuk terhindar dari virus korona, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Hendaknya kita memiliki hikmat dalam menyikapi pandemi virus korona ini. 
Seperti kata Albert Einstein:
“Science without religion is lame, religion without science is blind” 
"Ilmu pengetahuan tanpa agama itu pincang, agama tanpa ilmu pengetahuan itu buta"




Tuesday, May 11, 2021

"Bumi Manusia", Sebuah Novel yang Mengganggu Batin.

Novel "Bumi Manusia"

Bumi Manusia adalah sebuah karya sastra dari Pramoedya Ananta Tour, merupakan karya novel yang terdiri dari empat bagian (Tetra Logi). Buku ini saya beli sudah lama, sekitar dua tahun lalu, namun baru sempat di baca baru-baru ini. 

Saya bukan ingin mengulas jalan cerita dari novel tersebut secara detail, namun hanya ingin memeberikan sedikit "unek-unek" tentang novel atau karya sastra ini. 

Pada dasarnya, novel ini menceritakan tentang suatu masa pada jaman Hindia Belanda atau masa penjajahan Belanda di Indonesia kala itu. Dalam novel Bumi Manusia ini, ada beberapa tokoh utama yakni Minke, seorang muda yang terpelajar berpendidikan Eropa, lalu ada sebuah keluarga yang cukup terpandang, karena Seorang wanita pribumi yang menikah dengan bangsawan Belanda yakni Nyai Ontosoroh, dan menikah dengan Herman Mellema. Lalu keluarga ini memiliki anak laki-laki yang sering di panggil Robert dan Annelis seorang gadis cantik, atau kalau sekarang di sebut gadis Indo.

Pada suatu ketika, Ayah dari Annelis yang seorang Eropa ini meninggal dunia di racun oleh seorang Tiongkok, lalu singkat cerita menikah lah Annelis dan Minke, kebahagiaan yang tidak bertahan lama. Karena setelah itu, keluarga almarhun Tuan Herman Mellema di Belanda meminta hak harta yang di miliki Nyai Ontosoroh yang adalah ibu Annelis. Lalu keluarga Annelis di bantu Minke melakukan perlawanan di pengadilan, namun amat disayangkan, mereka kalah melawan keluarga besar almarhun Robert.

Yang membuat saya kecewa adalah, bahwa Annelis diharuskan dibawa ke Belanda dalam isi tuntutannya tersebut. Pada akhirnya, keluarga Annelis dan Ibu nya termasuk Minke kalah dalam perkara tersebut. Harta dan termasuk Annelis pada akhirnya harus di bawa ke Belanda.

Yang mengganggu saya adalah, mengapa Minke tidak ada perlawanan yang "sampai titik darah penghabisan" dalam merebut Annelis. Karena di ceritakan, pada saat mereka kalah, sepertinya tidak ada usaha Minke dalam merebut Annelis dari orang Belanda tersebut. Pikiran saya seharusnya Minke membawa lari Annelis atau berjuang sampai titik darah penghabisan merebut Annelis, karena Annelis adalah harga diri Minke dan bagian yang tak ternilai dalam hidup Minke.

Kekecewaan saya berikutnya adalah, Annelis di gambarkan sebagai wanita yang lemah. Puncaknya, pada saat ia di bawa dengan kapal ke Belanda, dia sakit-sakitan karena putus asa. Annelis tidak memiliki daya juang sama sekali untuk bertahan hidup, atau tidak punya keinginan untuk bertemu kembali dengan Minke suaminya dan Ibu nya tersebut. Pada novel Bumi Manusia ini, tidak di kisahkah bagaimana nasib Annelis selanjutnya, baru pada novel berikutnya dari rangkaian tetra logi, yaitu Anak Semua Bangsa, Annelis di ceritakan meninggal dunia.

Saya sangat terpukul sekali melihat nasib tragis Annelis, yang menjadi korban melawan kesewenang-wenangan bangsa Eropa, yang seperti tidak mengganggap orang pribumi sebagai bangsa yang harus di hormati. Inilah mengapa saya sangat sedih melihat cerita cinta Minke dan Annelis, dan mengganggu batin saya, tidak "happy ending".




Tuesday, November 26, 2019

Demi Sebongkah Berlian atau Sesuap Nasi? TKI Bertaruh Nyawa di Negeri Seberang



Gambar: VOA Indonesia

Tulisan ini saya buat karena saya sangat terganggu dengan berita di media online Kompas, bunyi beritanya sangat menyayat hati. Selama 11 Bulan, 104 TKI Ilegal asal NTT meninggal di Malaysia. Angka itu bukan angka yang kecil, melainkan jumlahnya ratusan dan hanya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Ada apa? mengapa itu bisa terjadi, tentu butuh investigasi lebih menyeluruh. Kompas pun tidak secara detail menjelaskan mengapa ratusan orang meninggal dalam kurun waktu tersebut? hanya menjelaskan beberapa orang yang terkena penyakit, lalu meninggal. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan orang yang meninggal itu? apakah mendapatkan hak-haknya? besar kemungkinan tidak, karena mereka adalah TKI ilegal yang tidak memiliki dokumen resmi ketenagakerjaan.

Menurut data dari CNN Indonesia, pada akhir tahun 2018, jumlah TKI yang bekerja di luar negeri mencapai 3,65 juta orang (naik dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 3,55 juta orang). Angka itu baru data dari TKI yang memiliki kelengkapan dokumen atau resmi, bagaimana dengan yang tidak tercatat? mungkin angka tersebut bisa bertambah banyak.
Menurut data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), ada sekitar 70 persen TKI bekerja di wilayah Asia Pasifik, dengan porsi terbesar di Malaysia, Hongkon, Taiwan, dan Singapura. Sementara itu sisanya bekerja di Timur Tengah dan Afrika, dengan porsi terbesar di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania.

Data TKI tersebut bukan sekedar angka, namun ada nyawa berharga yang harus di lindungi hak nya dalam bekerja di negeri orang. Sudah selayaknya pemerintah terkait dan juga provinsi saling bekerja sama melindungi TKI tersebut. Sepertinya tidak bisa hanya pemerintah pusat saja yang bertanggung jawab, peran daerah sangat di butuhkan untuk mengawasi TKI tersebut, terlebih mengurangi TKI ilegal yang tidak memiliki keterampilan, yang sangat rawan di tindas dan di perlakukan sewenang-wenang.
Angka sebanyak 104 yang tewas di negeri orang tersebut begitu banyak, seperti korban perang yang meninggal sia-sia tanpa mendapatkan hak dan perlindungan.
Turut berduka cita untuk orang-orang tersebut, yang mungkin berjuang dengan bertaruh nyawa demi membantu keluarganya yang tidak bisa hidup layak di negeri sendiri.
Salam.


Sumber bacaan:

Saturday, November 23, 2019

Politik Dalam Pusaran Media; proporsional atau Berlebihan?

politik dalam pusaran media
Entah mengapa saya melihat bahwa politik tidak pernah selesai di negeri ini, Dimulai dengan Pilkada DKI Jakarta, kemudian di sambung lagi dengan pemilihan Presiden 2019 yang juga telah usai. Namun riuh dan semaraknya tidak pernah selasai bahkan hingga kini, bahkan semakin menjadi-jadi saja. beberapa peristiwa politik seperti acara-acara kepartaian, pemilihan ketua parta, hari jadi partai dan lain sebagaimya terus memenuhi lini massa dan berita-berita di televisi maupun di media online, apa lagi media sosial. Bahkan beberapa tokoh partai sudah berbicara mengenai pemilihan presiden 2024, luar biasa! saya sampai geleng-geleng kepala. 

Media massa pun turut serta membuat semakin sumpek nya berita-berita nasional, mungkin 80 persen acara atau berita mengenai politik. Saya tidak tahu apakah demi mengejar rating tv, atau memang kita yang masih tertarik dengan berita-berita politik yang sebagian besar hanya mengenai konflik, kekuasaan dan kepentingan mereka sendiri.

saya pribadi juga memiliki ketertarikan di dalam masalah politik, karena bagaimana pun kita tidak bisa lepas dari yang namanya politik. Kepentingan kita, hak-hak kita, semua masuk dalam lingkarang politik. Namun jika semua hal tentang politik, kekuasaan, dan kepentingan partai politik, lama-kelamaan muak juga kita melihatnya, seperti saya yang tadinya suka dengan politik menjadi muak karena sudah over dosis. Di tahun 2016-2018 ada 22 juta warga negara Indonesia terkena kelaparan (menurut laporan Asian Development Bank/ADB), bangunan sekolah runtuh, masalah stunting atau tinggi badan yang rendah. Mengapa bukan hal-hal seperti itu yang porsi nya lebih besar di bahas oleh petinggi politik dan para pihak yang terkait, bahkan pers juga seharusnya tidak melulu mengenai politik dalam penayangan beritanya.

Ada baiknya talk show di televisi juga membahas mendalam tentang bagaimana caranya meningkatkan sumber daya manusia dan bangunan sekolah yang banyak runtuh dan menurut saya sudah tidak sesuai standar lagi untuk tempat belajar. 
Politik itu menarik dan penting bagi kita, dan kita wajib peduli, tapi jangan sampai politik hanya sebagai diskusi pepesan kosong tentang kekuasaan dan kepentingan golongan saja, terlebih di media massa dan juga di media sosial. Jangan sampai banyak orang akan antipati terhadap politik, karena seperti pepesan kosong tiada manfaat bagi banyak orang
Salam.

referensi:



Wednesday, November 20, 2019

Monas Riwayatmu Kini

Sudah dua kali saya berkunjung ke Monumen Nasional atau Monas, suasana yang lapang dan tenang membuat saya kembali ke tempat ini hanya untuk melepas kepenatan ibukota, sembari sesekali membaca bacaan untuk menambah pengetahuan. Berkunjung ke Monas di tengah hari bolong, membuat panas terik saya rasakan sembari berjalan-jalan menuju Monas yang lumayan jauh dari pintu gerbang. Sengaja tidak menggunakan skuter listrik yang tersedia, atau "odong-odong" yang di sediakan untuk pengunjung menuju ke Monas yang berada di tengah-tengah lokas ini, saya memilih untuk berjalan kaki sembari berolahraga untuk menjaga kesehatan.
Jakarta dari puncak Monas (foto pribadi)
Tidak lupa saya pun menyempatkan diri untuk naik ke puncak Monas, dan bergabung dengan para wisatawan lainnya. Suasanya di hari kerja mungkin juga membuat suasana tidak begitu padat. Saya melihat beberapa kelompok wisatawan lokal yang kebanyakan dari daerah, yang mungkin belum pernah melihat Monas secara langsung. Sesekali mereka berfoto ria, dan beberapa ber canda gurau dengan kelompoknya. Ada juga kelompok Taman Kanak-kanak (TK) atau Play Group yang juga berkunjung ke tempat ini, yang tentu saja di awasi oleh guru mereka.

Seorang anak sedang menggunakan teropong di puncak Monas (foto pribadi)
Suasana memang cukup membosankan, jika berjalan sendiri atau sekedar melihat-lihat lokasi di sekitar Monas, yang hanya nampak gedung-gedung dan beton-beton pencakar langit. Kedepennya mungkin perlu diadakan penghijauan di sekitaran Monas, agar tidak terlalu kering dan gersang apalagi berada di tengah Jakarta yang jarang sekali ada wilayah yang rimbun atau hijau oleh pepohonan.
Wisatawan Monas sedang anteri sambil duduk-duduk untuk menunggu giliran naik ke puncak Monas (foto pribadi).
Kegiatan-kegiatan kebudayaan atau atraksi-atraksi juga perlu di perbanyak, agar terlihat banyak kegiatan dan menambah daya tarik pengunjung.untuk datang ke Monas yang menurut saya jarang ada atraksi-atraksi budaya untuk menambah pengetahuan pengunjung Monas akan budaya lokal Indonesia.
Rombongan tour anak Play Group sedang anteri naik "odong-odong" Monas (foto probadi).
Semoga ke depan Monas lebih hidup lagi dan lebih rimbun oleh pepohonan hijau, sehingga membuat suasana lebih sejuk dan pengunjungpun semakin ramai.
Salam.

Thursday, February 14, 2019

Anomali Partai Solidaritas Indonesia

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia, Tsamara Amany. Gambar: Tribunenews.com
Tulisan ini saya buat setelah saya membaca sebuah artikel yang membahas Partai Solidaritas Indonesia selanjutnya saya sebut "PSI" sebagai partai baru yang menawarkan pembaruan dalam sistem perpolitikan di Indonesia, penulisnya juga mempertanyakan apakah benar PSI adalah benar-benar mengusung pembaharuan di dalam perpolitikan Indonesia.

Partai Solidaritas Indonesia kini sedang ramai di perbincangkan di berbagai media, mungkin bisa disebut sebagai "media darling" di beberapa arus utama media dan sosial media. Selain karena partai baru yang mengusung pembaruan, partai ini juga sempat memunculkan ide-ide yang cukup kontroversial di kancah perpolitikan Indonesia, sebut saja salah satu pidato Ketua 'PSI" Grace Natalie yang mencetuskan ide larangan berpoligami dan juga larangan mengenai perda agama, dimana hukum yang mengatur kehidupan bersama harus didasarkan pada prinsip universal, bukan parsial (di kutip langsung dari website resmi PSI). 

Yang juga cukup menarik adalah hampir seluruh anggota bahkan pengurus elit PSI adalah kaum milenial muda, bahkan ada yang berasal dari kalangan penyanyi band papan atas. Sebut saja Tsamara Amany, yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Pusat "PSI", kemudian ada pula Giring Ganesha alias "Giring Nidji", Mohamad Guntur Romli, dan masih banyak sederetan nama-nama lainnya yang muncul dari kalangan milenial muda, baik di tingkat pengurus maupun anggota.

Yang membuat menarik dari artikel yang saya baca adalah, sang penulis mempertanyakan moto yang sering di gaungkan PSI sebagai partai pembaruan. Ini membuat saya menarik menelaah lebih jauh, sejatinya partai baru adalah partai yang benar-benar menawarkan sesuatu yang baru dari yang sudah ada, dan memiliki ide-ide yang otentik. Namun, bila kita melihat posisi PSI saat ini yang berada di lingkaran kekuasaan, apakah bisa kita sebut sebagai partai yang menawarkan pembaruan? logika berfikir kita adalah jika PSI menempel pada kekuasaan, bukankah PSI akan menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri dan akan melebur di dalam sistem yang sudah ada yang di huni oleh politikus-politikus lama. mengapa saya katakan PSI bisa menjadi bagian dari sistem yang sudah ada, karena saat ini secara terbuka PSI mendukung Bapak Presiden Joko Widodo sebagai presiden di pemilu presiden yang akan datang. Dengan demikian kita bertanya, dimana pembaruan yang di gaungkan PSI? Pertanyaan skeptis ini mungkin bisa jadi bahan renungan kita, dan sikap kritis untuk menilai apakah benar PSI adalah partai yang otentik dan benar-benar mengusung pembaruan.
Secara pribadi, ide-ide segar yang di tawarkan PSI menarik buat saya, dan menilai positif atas gerakan dan ide-ide yang ditawarkan PSI. Namun tetap kita harus skeptis, jangan sampai terjebak dalam diksi-diksi bahasa, namun realitanya di pertanyakan.
Salam.


Referensi tulisan:
https://kumparan.com/antoni-putra/anomali-partai-solidaritas-indonesia-1549861315480341633
https://psi.id/berita/2018/11/16/penjelasan-sikap-psi-tentang-perda-agama/


Sunday, February 10, 2019

Rumput dan Manusia

Secara harfiah dan tata bahasa, tidak ada hubungan antara rumput dan manusia, keduanya adalah entitas yang berbeda. Manusia adalah mahluk mulia, yang diciptakan sempurna oleh Allah, sedangkan rumput adalah hanya ciptaan komplementer atau pelengkap saja yang menunjang kehidupan manusia secara tidak langsung.

Rumput itu memiliki sifat tumbuh yang sementara, dan tidak abadi. Semakin lama rumput akan semakin tinggi dan bentuknya akan semakin tidak beraturan. Jika kita memelihara atau menanam rumput di halaman rumah, maka rumput tersebut akan kita potong secara teratur dan berkala bila sudah panjang dan tidak beraturan. Rumput yang hari ini kita lihat, mungkin besok sudah tidak ada dan berganti dengan rumput-rumput yang lain.

Begitu juga dengan manusia, ada batas kehidupan yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia. Kematian adalah keniscayaan bagi semua mahluk hidup, termasuk manusia. siklus manusia dilahirkan, menjadi dewasa, tua, dan meninggal. Tidak ada yang dapat menghindar dari siklus kehidupan tersebut, apakah seorang raja, rakyat jelata, atau siapapun dia, bagi mahluk hidup seperti manusia, mati adalah sebuah kepastian.

Kembali ke judul tulisan ini, berarti ada kesamaan antara sifat rumput dan manusia yakni sama-sama akan hilang dari muka bumi ini pada saatnya nanti. Rumput yang hari ini ada, besok belum tentu ada, sama dengan manusia.

Suatu saat, saya melihat foto seorang jendral tentara yang terkemuka pada waktu mudanya. Jendral tersebut begitu gagah, di pundaknya bertabur bintang lambang kekuasaan dan pangkat hierarki yang tinggi di militer. Namun saya melihat orang yang sama pada masa tuanya, seorang jendral tentara yang sudah pensiun dan menua. Jalannya nya pun sudah lambat, tidak seperti sewaktu muda begitu gagah dan kelihatan hebat.
Itulah sifat manusia, tidak ada yang abadi termasuk kejayaan, semua akan berlalu pada waktunya.

Daud adalah raja yang di urapi Tuhan, Daud dalam nyanyiannya berkata " manusia itu seperti rumput dan bunga, yang hari ini ada, maka besok sudah tidak ada, bahkan tempatnya pun tidak mengenalinya lagi.

Hidup ini indah dan berharga, namun akan hilang pada waktunya, maka mensyukuri hidup adalah keharusan, karena hidup terlalu singkat untuk di lewati begitu saja.

Salam.

Monday, February 4, 2019

Pemilihan Presiden 2019 dan Media Sosial

Bulan April tanggal 17 tahun 2019 kalau tidak salah akan diadakan pilpres atau pemilihan presiden di Indonesia, agenda tiap lima tahunan bangsa kita untuk memilih pemimpin tertinggi di republik ini. Pemilihan presiden tahun ini menyisakan dua kandidat utama yang akan bersaing untuk menjadi presiden RI yang ke delapan yakni Bapak Joko Widodo dan Bapak Prabowo Subianto sebagai penantang. Riuh pilpres begitu terasa mulai sejak tahun lalu, bahkan sejak pemilihan Gubernur DKI 2017 pun sudah ada aroma persaingan pemilihan presiden.

Perang media sosial pun tidak bisa di elakkan, dua tim kampanye saling serang dan bahkan saling ejek satu sama lain. Lebih banyak hujatan dari pada ide yang ditawarkan, bahkan hujatan yang mengarah pada isu-isu primordial atau politik identitas, seperti agama, suku dan lainnya pun dimainkan. Jika kita membuka media sosial seperti Facebook atau Twitter, maka hampir semua bermuatan politik ataupun aroma pemilihan presiden.

Saya berpendapat bahwa kondisi media sosial saat ini sudah sangat tidak mendidik, dan cenderung memupuk kebencian dan perpecahan. Tidak ada rasa "adem" atau sejuk jika kita membuka media sosial, malah yang ada adalah hawa panas yang sarat kebencian. Bagaimana kalau semua hal negatif itu dilihat oleh anak-anak yang belum bisa berpikir dewasa, kemungkinan besar akan ikut terseret dengan isu-isu perpecahan atau memupuk pikiran-pikiran saling mencela, yang tentu saja sangat berbahaya bagi bangsa yang kita Cintai ini.

Marilah berfikir jernih, lihat sisi baik mana yang paling banyak dari kedua capres, lalu tentukan pilihan. kedua calon presiden adalah putera-putera terbaik bangsa, kita hanya perlu memilih sesuai dengan hati nurani kita dan pertimbangan-pertimbangan akal sehat kita untuk memilih yang terbaik dari kedua calon presiden.
pilihan kita belum tentu pilihan orang lain, jadi tidak perlu memperdebatkan di ruang terbuka yang hanya akan menimbulkan konflik yang tidak produktif bagi bangsa tercinta kita.
Mari isi media sosial dengan hal-hal yang menyejukkan, banyak hal baik selain pilpres yang bisa di tuangkan lewat media sosial.
Salam Pilpres 2019.