![]() |
| Corona Virus |
Friday, May 14, 2021
Tips Bertahan dalam Kepungan Virus Corona
Tuesday, May 11, 2021
"Bumi Manusia", Sebuah Novel yang Mengganggu Batin.
![]() |
| Novel "Bumi Manusia" |
Bumi Manusia adalah sebuah karya sastra dari Pramoedya Ananta Tour, merupakan karya novel yang terdiri dari empat bagian (Tetra Logi). Buku ini saya beli sudah lama, sekitar dua tahun lalu, namun baru sempat di baca baru-baru ini.
Saya bukan ingin mengulas jalan cerita dari novel tersebut secara detail, namun hanya ingin memeberikan sedikit "unek-unek" tentang novel atau karya sastra ini.
Pada dasarnya, novel ini menceritakan tentang suatu masa pada jaman Hindia Belanda atau masa penjajahan Belanda di Indonesia kala itu. Dalam novel Bumi Manusia ini, ada beberapa tokoh utama yakni Minke, seorang muda yang terpelajar berpendidikan Eropa, lalu ada sebuah keluarga yang cukup terpandang, karena Seorang wanita pribumi yang menikah dengan bangsawan Belanda yakni Nyai Ontosoroh, dan menikah dengan Herman Mellema. Lalu keluarga ini memiliki anak laki-laki yang sering di panggil Robert dan Annelis seorang gadis cantik, atau kalau sekarang di sebut gadis Indo.
Pada suatu ketika, Ayah dari Annelis yang seorang Eropa ini meninggal dunia di racun oleh seorang Tiongkok, lalu singkat cerita menikah lah Annelis dan Minke, kebahagiaan yang tidak bertahan lama. Karena setelah itu, keluarga almarhun Tuan Herman Mellema di Belanda meminta hak harta yang di miliki Nyai Ontosoroh yang adalah ibu Annelis. Lalu keluarga Annelis di bantu Minke melakukan perlawanan di pengadilan, namun amat disayangkan, mereka kalah melawan keluarga besar almarhun Robert.
Yang membuat saya kecewa adalah, bahwa Annelis diharuskan dibawa ke Belanda dalam isi tuntutannya tersebut. Pada akhirnya, keluarga Annelis dan Ibu nya termasuk Minke kalah dalam perkara tersebut. Harta dan termasuk Annelis pada akhirnya harus di bawa ke Belanda.
Yang mengganggu saya adalah, mengapa Minke tidak ada perlawanan yang "sampai titik darah penghabisan" dalam merebut Annelis. Karena di ceritakan, pada saat mereka kalah, sepertinya tidak ada usaha Minke dalam merebut Annelis dari orang Belanda tersebut. Pikiran saya seharusnya Minke membawa lari Annelis atau berjuang sampai titik darah penghabisan merebut Annelis, karena Annelis adalah harga diri Minke dan bagian yang tak ternilai dalam hidup Minke.
Kekecewaan saya berikutnya adalah, Annelis di gambarkan sebagai wanita yang lemah. Puncaknya, pada saat ia di bawa dengan kapal ke Belanda, dia sakit-sakitan karena putus asa. Annelis tidak memiliki daya juang sama sekali untuk bertahan hidup, atau tidak punya keinginan untuk bertemu kembali dengan Minke suaminya dan Ibu nya tersebut. Pada novel Bumi Manusia ini, tidak di kisahkah bagaimana nasib Annelis selanjutnya, baru pada novel berikutnya dari rangkaian tetra logi, yaitu Anak Semua Bangsa, Annelis di ceritakan meninggal dunia.
Saya sangat terpukul sekali melihat nasib tragis Annelis, yang menjadi korban melawan kesewenang-wenangan bangsa Eropa, yang seperti tidak mengganggap orang pribumi sebagai bangsa yang harus di hormati. Inilah mengapa saya sangat sedih melihat cerita cinta Minke dan Annelis, dan mengganggu batin saya, tidak "happy ending".
Tuesday, November 26, 2019
Demi Sebongkah Berlian atau Sesuap Nasi? TKI Bertaruh Nyawa di Negeri Seberang
![]() |
| Gambar: VOA Indonesia |
Saturday, November 23, 2019
Politik Dalam Pusaran Media; proporsional atau Berlebihan?
![]() |
| politik dalam pusaran media |
Wednesday, November 20, 2019
Monas Riwayatmu Kini
| Jakarta dari puncak Monas (foto pribadi) |
| Seorang anak sedang menggunakan teropong di puncak Monas (foto pribadi) |
| Wisatawan Monas sedang anteri sambil duduk-duduk untuk menunggu giliran naik ke puncak Monas (foto pribadi). |
| Rombongan tour anak Play Group sedang anteri naik "odong-odong" Monas (foto probadi). |
Thursday, February 14, 2019
Anomali Partai Solidaritas Indonesia
![]() |
| Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia, Tsamara Amany. Gambar: Tribunenews.com |
Sunday, February 10, 2019
Rumput dan Manusia
Monday, February 4, 2019
Pemilihan Presiden 2019 dan Media Sosial
Perang media sosial pun tidak bisa di elakkan, dua tim kampanye saling serang dan bahkan saling ejek satu sama lain. Lebih banyak hujatan dari pada ide yang ditawarkan, bahkan hujatan yang mengarah pada isu-isu primordial atau politik identitas, seperti agama, suku dan lainnya pun dimainkan. Jika kita membuka media sosial seperti Facebook atau Twitter, maka hampir semua bermuatan politik ataupun aroma pemilihan presiden.
Saya berpendapat bahwa kondisi media sosial saat ini sudah sangat tidak mendidik, dan cenderung memupuk kebencian dan perpecahan. Tidak ada rasa "adem" atau sejuk jika kita membuka media sosial, malah yang ada adalah hawa panas yang sarat kebencian. Bagaimana kalau semua hal negatif itu dilihat oleh anak-anak yang belum bisa berpikir dewasa, kemungkinan besar akan ikut terseret dengan isu-isu perpecahan atau memupuk pikiran-pikiran saling mencela, yang tentu saja sangat berbahaya bagi bangsa yang kita Cintai ini.
Marilah berfikir jernih, lihat sisi baik mana yang paling banyak dari kedua capres, lalu tentukan pilihan. kedua calon presiden adalah putera-putera terbaik bangsa, kita hanya perlu memilih sesuai dengan hati nurani kita dan pertimbangan-pertimbangan akal sehat kita untuk memilih yang terbaik dari kedua calon presiden.
pilihan kita belum tentu pilihan orang lain, jadi tidak perlu memperdebatkan di ruang terbuka yang hanya akan menimbulkan konflik yang tidak produktif bagi bangsa tercinta kita.
Mari isi media sosial dengan hal-hal yang menyejukkan, banyak hal baik selain pilpres yang bisa di tuangkan lewat media sosial.
Salam Pilpres 2019.
Wednesday, October 24, 2018
Malaikat Tak Bersayap
![]() |
| Ilustrasi seorang malaikat |
Wednesday, July 11, 2018
Auditor Iman
![]() |
| gambar: ilustrasi hakim; sang pengadil di dunia. |
Monday, July 9, 2018
Renang dan Rasa Takut
![]() |
| gambar: ilustrasi kolam renang |
Saturday, July 7, 2018
Dunia Hari Ini Berputar Sangat Cepat
Friday, July 6, 2018
Piala Dunia dan Pilkada
![]() |
| Raina Premiera Gumay, anak Indonesia yang menjadi player escort/pendamping sepakbola di Piala dunia Rusia 2018 |
Pilkada yang bersih akan menciptakan seorang pemimpin yang jujur dan terlegitimasi di dalam masyarakaat, dan tentu pada akhirnya rakyat akan memiliki pemimpin yang berkualitas, dan bebas korupsi. Betapa pentingnya memilih pemimpin yang berkualitas, karena nasib rakyat banyak akan ditentukan oleh pemimpin tersebut. Sama dengan pilkada, piala dunia yang bersih dan fair play, akan membuat pertandingan enak di tonton dan menghibur. Bayangkan jika salah satu tim, bahkan tim favorit kita melakukan tindakan yang tidak fair dilapangan hijau, pertandingan pun akan tercoreng dan tidak menghibur dan tontonan pun akan menjadi tidak menarik.
Saya pribadi memandang antara piala dunia dan pilkada sama tapi tak serupa, persamaannya sudah diuraikan diatas. Perbedaannya adalah piala dunia menyajikan pertandingan yang menghibur kita, terutama karena saya pencinta sepak bola. Namun dalam pilkada, banyak hal-hal yang membuat dahi berkerut, entah itu karena persaingan yang tidak sehat atau pun perilaku dari para calon pemimpin tersebut yang mengumbar kebencian, fitnah dan seringkali dilakukan terang-terangan oleh para pendukung calon pemimpin tersebut.
Di Televis nasional, terutama TV berita, hampir semua berita di dominasi oleh berita pilkada atau politik, dan membuat kita jemu bahkan membuat contoh yang tidak baik bagi masyarakat yang menonton jika ada tindakan yang tidak fair yang dilakukan oleh para pendukung maupun calon pemimpin itu sendiri.
saran saya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu membatasi TV nasional dalam menayangkan berita politik, supaya masyarakat tidak terpapar oleh dampak negatif dari berita-berita politik tersebut walaupun tidak selalu demikian, namun kebanyakan berita politik dipenuhi dengan kampanye kebencian, intrik, dan persaingan yang tidak sehat.
Piala dunia,menyajikan tayangan-tayangan segar dan menarik, serta menghibur penonton dan menjadi inspirasi bagi kita agar bisa memajukan sepak bola Indonesia dan berharap suatu saat Indonesia bisa tampil di piala dunia selanjutnya.
Kesimpulan penulis, piala dunia lebih memancarkan aura positif dari pada pilkada terutama di layar kaca. Walaupun Pilkada banyak memancarkan aura negatif, namun kita tidak boleh anti atau apatis terhadap politik, karena politik mau tidak mau menentukan nasib kita kedepan. Menonton dengan akal sehat dan menyaring informasi, adalah cara agar kita tidak keracunan dan terpapar efek negatif berita politik.
Salam piala dunia yang menarik, dan pilkada yang membosankan.









