Friday, May 14, 2021

Tips Bertahan dalam Kepungan Virus Corona

Sudah dua tahun dunia dilanda virus Korona, dampaknya luar biasa bagi kehidupan umat manusia. Dari mulai kehilangan nyawa, sampai ladang pekerjaan yang hilang. Secara psikologis, banyak juga laporan penelitian yang mengatakan bahwa tingkat stress akibat terkurung dalam rumah sebagai dampak dibatasinya pergerakan manusia, membuat banyak orang stress. Bagi dunia pendidikan, khusus nya di Indonesia, banyak yang tidak siap untuk beradaptasi dengan efek dari virus korona. Bagaimana tidak, dunia pendidikan Indonesia belum siap dengan teknologi pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh sangat membutuhkan keahlian yang khusus, baik dari segi sumber daya manusia nya, yang harus mempunyai keahlian, bagaimana pengajar bisa menerangkan secara efektif dan efisien untuk murid nya. Kesiapan teknologi juga harus mumpuni, seperti tersedianya jaringan internet, peralatan yang memadai untuk guru dan juga murid.
Itulah beberapa dampak yang terjadi akibat pandemi virus korona, manusia di tuntut terus berfikir untuk bertahan dalam kepungan virus.
Corona Virus
Sampai saat ini, belum ada obat yang secara efektif menyembuhkan orang yang terinfeksi virus korona, yang ada adalah meringankan dan menyembuhkan dampak dari gejala virus korona tersebut.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat, membuat para ahli kesehatan dan epidemiologi mampu membuat vaksin untuk menangkal virus korona masuk ke tubuh manusia. Walaupun tidak sempurna atau bersifat kedaruratan, namun vaksin di klaim mampu menurunkan, bahkan membuat manusia kebal dari virus korona. Berbagai vaksin bermunculan dari berbagai negara, mulai dari Cina yang menjadi awal dari pandemi menurut para ahli kesehatan. Cina berhasil membuat vaksin Corona seperti Sinovac, yang di klaim menciptakan tingkat efikasi atau kemampuan tangkal mencapai 65 persen, lalu Sinopharm yang tingkat efikasinya mencapai 70 persen. Lalu ada lagi vaksin Pfizer yang merupakan kerjasama dari perusahaan bioteknogi Jerman (BioNTech) dan perusahaan farmasi Amerika (Pfizer) yang di klaim memiliki tingkat efikasi hingga 90 persen, dan dipakai di berbagai negara Eropa dan Timur Tengah. Banyak lagi vaksin yang bermunculan, tentu dengan tingkat efikasi dan efek samping yang berbeda.

Distribusi Vaksin tersebar secara tidak merata, bahkan ada laporan dari Eropa bahwa vaksin di kendalikan oleh mafia demi keuntungan pribadi, seperti di Italia. Kita lihat dari pemberitaan, bahwa sebagian besar negara yang mendapat vaksin adalah negara maju, yang memiliki dana dan kemampuan teknologi. Sedangkan negara miskin, banyak yang belum mendapatkan akses vaksin. 
Kita ketahui, agar terjadi kekebalan kelompok (herd imunity), jumlah penduduk yang harus di vaksin adalah sekita 70 persen dari jumlah total penduduk. 
Di Indonesia, sejak tulisan ini di buat, orang yang sudah di vaksin di indonesia menjapai 7-8 juta penduduk, masih sangat jauh dari 70 persen untuk mencapai herd imunity.

lalu bagaimana cara untuk bertahan dalam kepungan virus korona. Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, untuk bertahan di kondisi pandemi ini.
Pertama, seperti anjuran pemerintah, kita harus melakukan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Sebisa mungkin menghindari kerumunan, yang dapat menyebarkan penularan virus.
Kedua, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Dengan berdoa dan bersyukur maka akan timbul perasaan tenang, bersyukur, sehingga menghindari stress yang dapat menurunkan kekebalan tubuh untuk melawan virus.
Kekuatan terbesar ada di Tangan Tuhan, yang memiliki kuasa transedental yakni di luar kemampuan nalar manusia, dengan meminta pertolongan Tuhan agar terhindar dari virus korona. Namun demikian, kita juga harus mengikuti panduan ilmu pengetahuan, sebagai usaha kita untuk terhindar dari virus korona, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Hendaknya kita memiliki hikmat dalam menyikapi pandemi virus korona ini. 
Seperti kata Albert Einstein:
“Science without religion is lame, religion without science is blind” 
"Ilmu pengetahuan tanpa agama itu pincang, agama tanpa ilmu pengetahuan itu buta"




Tuesday, May 11, 2021

"Bumi Manusia", Sebuah Novel yang Mengganggu Batin.

Novel "Bumi Manusia"

Bumi Manusia adalah sebuah karya sastra dari Pramoedya Ananta Tour, merupakan karya novel yang terdiri dari empat bagian (Tetra Logi). Buku ini saya beli sudah lama, sekitar dua tahun lalu, namun baru sempat di baca baru-baru ini. 

Saya bukan ingin mengulas jalan cerita dari novel tersebut secara detail, namun hanya ingin memeberikan sedikit "unek-unek" tentang novel atau karya sastra ini. 

Pada dasarnya, novel ini menceritakan tentang suatu masa pada jaman Hindia Belanda atau masa penjajahan Belanda di Indonesia kala itu. Dalam novel Bumi Manusia ini, ada beberapa tokoh utama yakni Minke, seorang muda yang terpelajar berpendidikan Eropa, lalu ada sebuah keluarga yang cukup terpandang, karena Seorang wanita pribumi yang menikah dengan bangsawan Belanda yakni Nyai Ontosoroh, dan menikah dengan Herman Mellema. Lalu keluarga ini memiliki anak laki-laki yang sering di panggil Robert dan Annelis seorang gadis cantik, atau kalau sekarang di sebut gadis Indo.

Pada suatu ketika, Ayah dari Annelis yang seorang Eropa ini meninggal dunia di racun oleh seorang Tiongkok, lalu singkat cerita menikah lah Annelis dan Minke, kebahagiaan yang tidak bertahan lama. Karena setelah itu, keluarga almarhun Tuan Herman Mellema di Belanda meminta hak harta yang di miliki Nyai Ontosoroh yang adalah ibu Annelis. Lalu keluarga Annelis di bantu Minke melakukan perlawanan di pengadilan, namun amat disayangkan, mereka kalah melawan keluarga besar almarhun Robert.

Yang membuat saya kecewa adalah, bahwa Annelis diharuskan dibawa ke Belanda dalam isi tuntutannya tersebut. Pada akhirnya, keluarga Annelis dan Ibu nya termasuk Minke kalah dalam perkara tersebut. Harta dan termasuk Annelis pada akhirnya harus di bawa ke Belanda.

Yang mengganggu saya adalah, mengapa Minke tidak ada perlawanan yang "sampai titik darah penghabisan" dalam merebut Annelis. Karena di ceritakan, pada saat mereka kalah, sepertinya tidak ada usaha Minke dalam merebut Annelis dari orang Belanda tersebut. Pikiran saya seharusnya Minke membawa lari Annelis atau berjuang sampai titik darah penghabisan merebut Annelis, karena Annelis adalah harga diri Minke dan bagian yang tak ternilai dalam hidup Minke.

Kekecewaan saya berikutnya adalah, Annelis di gambarkan sebagai wanita yang lemah. Puncaknya, pada saat ia di bawa dengan kapal ke Belanda, dia sakit-sakitan karena putus asa. Annelis tidak memiliki daya juang sama sekali untuk bertahan hidup, atau tidak punya keinginan untuk bertemu kembali dengan Minke suaminya dan Ibu nya tersebut. Pada novel Bumi Manusia ini, tidak di kisahkah bagaimana nasib Annelis selanjutnya, baru pada novel berikutnya dari rangkaian tetra logi, yaitu Anak Semua Bangsa, Annelis di ceritakan meninggal dunia.

Saya sangat terpukul sekali melihat nasib tragis Annelis, yang menjadi korban melawan kesewenang-wenangan bangsa Eropa, yang seperti tidak mengganggap orang pribumi sebagai bangsa yang harus di hormati. Inilah mengapa saya sangat sedih melihat cerita cinta Minke dan Annelis, dan mengganggu batin saya, tidak "happy ending".




Tuesday, November 26, 2019

Demi Sebongkah Berlian atau Sesuap Nasi? TKI Bertaruh Nyawa di Negeri Seberang



Gambar: VOA Indonesia

Tulisan ini saya buat karena saya sangat terganggu dengan berita di media online Kompas, bunyi beritanya sangat menyayat hati. Selama 11 Bulan, 104 TKI Ilegal asal NTT meninggal di Malaysia. Angka itu bukan angka yang kecil, melainkan jumlahnya ratusan dan hanya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Ada apa? mengapa itu bisa terjadi, tentu butuh investigasi lebih menyeluruh. Kompas pun tidak secara detail menjelaskan mengapa ratusan orang meninggal dalam kurun waktu tersebut? hanya menjelaskan beberapa orang yang terkena penyakit, lalu meninggal. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan orang yang meninggal itu? apakah mendapatkan hak-haknya? besar kemungkinan tidak, karena mereka adalah TKI ilegal yang tidak memiliki dokumen resmi ketenagakerjaan.

Menurut data dari CNN Indonesia, pada akhir tahun 2018, jumlah TKI yang bekerja di luar negeri mencapai 3,65 juta orang (naik dari tahun sebelumnya yakni sebanyak 3,55 juta orang). Angka itu baru data dari TKI yang memiliki kelengkapan dokumen atau resmi, bagaimana dengan yang tidak tercatat? mungkin angka tersebut bisa bertambah banyak.
Menurut data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), ada sekitar 70 persen TKI bekerja di wilayah Asia Pasifik, dengan porsi terbesar di Malaysia, Hongkon, Taiwan, dan Singapura. Sementara itu sisanya bekerja di Timur Tengah dan Afrika, dengan porsi terbesar di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania.

Data TKI tersebut bukan sekedar angka, namun ada nyawa berharga yang harus di lindungi hak nya dalam bekerja di negeri orang. Sudah selayaknya pemerintah terkait dan juga provinsi saling bekerja sama melindungi TKI tersebut. Sepertinya tidak bisa hanya pemerintah pusat saja yang bertanggung jawab, peran daerah sangat di butuhkan untuk mengawasi TKI tersebut, terlebih mengurangi TKI ilegal yang tidak memiliki keterampilan, yang sangat rawan di tindas dan di perlakukan sewenang-wenang.
Angka sebanyak 104 yang tewas di negeri orang tersebut begitu banyak, seperti korban perang yang meninggal sia-sia tanpa mendapatkan hak dan perlindungan.
Turut berduka cita untuk orang-orang tersebut, yang mungkin berjuang dengan bertaruh nyawa demi membantu keluarganya yang tidak bisa hidup layak di negeri sendiri.
Salam.


Sumber bacaan:

Saturday, November 23, 2019

Politik Dalam Pusaran Media; proporsional atau Berlebihan?

politik dalam pusaran media
Entah mengapa saya melihat bahwa politik tidak pernah selesai di negeri ini, Dimulai dengan Pilkada DKI Jakarta, kemudian di sambung lagi dengan pemilihan Presiden 2019 yang juga telah usai. Namun riuh dan semaraknya tidak pernah selasai bahkan hingga kini, bahkan semakin menjadi-jadi saja. beberapa peristiwa politik seperti acara-acara kepartaian, pemilihan ketua parta, hari jadi partai dan lain sebagaimya terus memenuhi lini massa dan berita-berita di televisi maupun di media online, apa lagi media sosial. Bahkan beberapa tokoh partai sudah berbicara mengenai pemilihan presiden 2024, luar biasa! saya sampai geleng-geleng kepala. 

Media massa pun turut serta membuat semakin sumpek nya berita-berita nasional, mungkin 80 persen acara atau berita mengenai politik. Saya tidak tahu apakah demi mengejar rating tv, atau memang kita yang masih tertarik dengan berita-berita politik yang sebagian besar hanya mengenai konflik, kekuasaan dan kepentingan mereka sendiri.

saya pribadi juga memiliki ketertarikan di dalam masalah politik, karena bagaimana pun kita tidak bisa lepas dari yang namanya politik. Kepentingan kita, hak-hak kita, semua masuk dalam lingkarang politik. Namun jika semua hal tentang politik, kekuasaan, dan kepentingan partai politik, lama-kelamaan muak juga kita melihatnya, seperti saya yang tadinya suka dengan politik menjadi muak karena sudah over dosis. Di tahun 2016-2018 ada 22 juta warga negara Indonesia terkena kelaparan (menurut laporan Asian Development Bank/ADB), bangunan sekolah runtuh, masalah stunting atau tinggi badan yang rendah. Mengapa bukan hal-hal seperti itu yang porsi nya lebih besar di bahas oleh petinggi politik dan para pihak yang terkait, bahkan pers juga seharusnya tidak melulu mengenai politik dalam penayangan beritanya.

Ada baiknya talk show di televisi juga membahas mendalam tentang bagaimana caranya meningkatkan sumber daya manusia dan bangunan sekolah yang banyak runtuh dan menurut saya sudah tidak sesuai standar lagi untuk tempat belajar. 
Politik itu menarik dan penting bagi kita, dan kita wajib peduli, tapi jangan sampai politik hanya sebagai diskusi pepesan kosong tentang kekuasaan dan kepentingan golongan saja, terlebih di media massa dan juga di media sosial. Jangan sampai banyak orang akan antipati terhadap politik, karena seperti pepesan kosong tiada manfaat bagi banyak orang
Salam.

referensi:



Wednesday, November 20, 2019

Monas Riwayatmu Kini

Sudah dua kali saya berkunjung ke Monumen Nasional atau Monas, suasana yang lapang dan tenang membuat saya kembali ke tempat ini hanya untuk melepas kepenatan ibukota, sembari sesekali membaca bacaan untuk menambah pengetahuan. Berkunjung ke Monas di tengah hari bolong, membuat panas terik saya rasakan sembari berjalan-jalan menuju Monas yang lumayan jauh dari pintu gerbang. Sengaja tidak menggunakan skuter listrik yang tersedia, atau "odong-odong" yang di sediakan untuk pengunjung menuju ke Monas yang berada di tengah-tengah lokas ini, saya memilih untuk berjalan kaki sembari berolahraga untuk menjaga kesehatan.
Jakarta dari puncak Monas (foto pribadi)
Tidak lupa saya pun menyempatkan diri untuk naik ke puncak Monas, dan bergabung dengan para wisatawan lainnya. Suasanya di hari kerja mungkin juga membuat suasana tidak begitu padat. Saya melihat beberapa kelompok wisatawan lokal yang kebanyakan dari daerah, yang mungkin belum pernah melihat Monas secara langsung. Sesekali mereka berfoto ria, dan beberapa ber canda gurau dengan kelompoknya. Ada juga kelompok Taman Kanak-kanak (TK) atau Play Group yang juga berkunjung ke tempat ini, yang tentu saja di awasi oleh guru mereka.

Seorang anak sedang menggunakan teropong di puncak Monas (foto pribadi)
Suasana memang cukup membosankan, jika berjalan sendiri atau sekedar melihat-lihat lokasi di sekitar Monas, yang hanya nampak gedung-gedung dan beton-beton pencakar langit. Kedepennya mungkin perlu diadakan penghijauan di sekitaran Monas, agar tidak terlalu kering dan gersang apalagi berada di tengah Jakarta yang jarang sekali ada wilayah yang rimbun atau hijau oleh pepohonan.
Wisatawan Monas sedang anteri sambil duduk-duduk untuk menunggu giliran naik ke puncak Monas (foto pribadi).
Kegiatan-kegiatan kebudayaan atau atraksi-atraksi juga perlu di perbanyak, agar terlihat banyak kegiatan dan menambah daya tarik pengunjung.untuk datang ke Monas yang menurut saya jarang ada atraksi-atraksi budaya untuk menambah pengetahuan pengunjung Monas akan budaya lokal Indonesia.
Rombongan tour anak Play Group sedang anteri naik "odong-odong" Monas (foto probadi).
Semoga ke depan Monas lebih hidup lagi dan lebih rimbun oleh pepohonan hijau, sehingga membuat suasana lebih sejuk dan pengunjungpun semakin ramai.
Salam.

Thursday, February 14, 2019

Anomali Partai Solidaritas Indonesia

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia, Tsamara Amany. Gambar: Tribunenews.com
Tulisan ini saya buat setelah saya membaca sebuah artikel yang membahas Partai Solidaritas Indonesia selanjutnya saya sebut "PSI" sebagai partai baru yang menawarkan pembaruan dalam sistem perpolitikan di Indonesia, penulisnya juga mempertanyakan apakah benar PSI adalah benar-benar mengusung pembaharuan di dalam perpolitikan Indonesia.

Partai Solidaritas Indonesia kini sedang ramai di perbincangkan di berbagai media, mungkin bisa disebut sebagai "media darling" di beberapa arus utama media dan sosial media. Selain karena partai baru yang mengusung pembaruan, partai ini juga sempat memunculkan ide-ide yang cukup kontroversial di kancah perpolitikan Indonesia, sebut saja salah satu pidato Ketua 'PSI" Grace Natalie yang mencetuskan ide larangan berpoligami dan juga larangan mengenai perda agama, dimana hukum yang mengatur kehidupan bersama harus didasarkan pada prinsip universal, bukan parsial (di kutip langsung dari website resmi PSI). 

Yang juga cukup menarik adalah hampir seluruh anggota bahkan pengurus elit PSI adalah kaum milenial muda, bahkan ada yang berasal dari kalangan penyanyi band papan atas. Sebut saja Tsamara Amany, yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Pusat "PSI", kemudian ada pula Giring Ganesha alias "Giring Nidji", Mohamad Guntur Romli, dan masih banyak sederetan nama-nama lainnya yang muncul dari kalangan milenial muda, baik di tingkat pengurus maupun anggota.

Yang membuat menarik dari artikel yang saya baca adalah, sang penulis mempertanyakan moto yang sering di gaungkan PSI sebagai partai pembaruan. Ini membuat saya menarik menelaah lebih jauh, sejatinya partai baru adalah partai yang benar-benar menawarkan sesuatu yang baru dari yang sudah ada, dan memiliki ide-ide yang otentik. Namun, bila kita melihat posisi PSI saat ini yang berada di lingkaran kekuasaan, apakah bisa kita sebut sebagai partai yang menawarkan pembaruan? logika berfikir kita adalah jika PSI menempel pada kekuasaan, bukankah PSI akan menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri dan akan melebur di dalam sistem yang sudah ada yang di huni oleh politikus-politikus lama. mengapa saya katakan PSI bisa menjadi bagian dari sistem yang sudah ada, karena saat ini secara terbuka PSI mendukung Bapak Presiden Joko Widodo sebagai presiden di pemilu presiden yang akan datang. Dengan demikian kita bertanya, dimana pembaruan yang di gaungkan PSI? Pertanyaan skeptis ini mungkin bisa jadi bahan renungan kita, dan sikap kritis untuk menilai apakah benar PSI adalah partai yang otentik dan benar-benar mengusung pembaruan.
Secara pribadi, ide-ide segar yang di tawarkan PSI menarik buat saya, dan menilai positif atas gerakan dan ide-ide yang ditawarkan PSI. Namun tetap kita harus skeptis, jangan sampai terjebak dalam diksi-diksi bahasa, namun realitanya di pertanyakan.
Salam.


Referensi tulisan:
https://kumparan.com/antoni-putra/anomali-partai-solidaritas-indonesia-1549861315480341633
https://psi.id/berita/2018/11/16/penjelasan-sikap-psi-tentang-perda-agama/


Sunday, February 10, 2019

Rumput dan Manusia

Secara harfiah dan tata bahasa, tidak ada hubungan antara rumput dan manusia, keduanya adalah entitas yang berbeda. Manusia adalah mahluk mulia, yang diciptakan sempurna oleh Allah, sedangkan rumput adalah hanya ciptaan komplementer atau pelengkap saja yang menunjang kehidupan manusia secara tidak langsung.

Rumput itu memiliki sifat tumbuh yang sementara, dan tidak abadi. Semakin lama rumput akan semakin tinggi dan bentuknya akan semakin tidak beraturan. Jika kita memelihara atau menanam rumput di halaman rumah, maka rumput tersebut akan kita potong secara teratur dan berkala bila sudah panjang dan tidak beraturan. Rumput yang hari ini kita lihat, mungkin besok sudah tidak ada dan berganti dengan rumput-rumput yang lain.

Begitu juga dengan manusia, ada batas kehidupan yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia. Kematian adalah keniscayaan bagi semua mahluk hidup, termasuk manusia. siklus manusia dilahirkan, menjadi dewasa, tua, dan meninggal. Tidak ada yang dapat menghindar dari siklus kehidupan tersebut, apakah seorang raja, rakyat jelata, atau siapapun dia, bagi mahluk hidup seperti manusia, mati adalah sebuah kepastian.

Kembali ke judul tulisan ini, berarti ada kesamaan antara sifat rumput dan manusia yakni sama-sama akan hilang dari muka bumi ini pada saatnya nanti. Rumput yang hari ini ada, besok belum tentu ada, sama dengan manusia.

Suatu saat, saya melihat foto seorang jendral tentara yang terkemuka pada waktu mudanya. Jendral tersebut begitu gagah, di pundaknya bertabur bintang lambang kekuasaan dan pangkat hierarki yang tinggi di militer. Namun saya melihat orang yang sama pada masa tuanya, seorang jendral tentara yang sudah pensiun dan menua. Jalannya nya pun sudah lambat, tidak seperti sewaktu muda begitu gagah dan kelihatan hebat.
Itulah sifat manusia, tidak ada yang abadi termasuk kejayaan, semua akan berlalu pada waktunya.

Daud adalah raja yang di urapi Tuhan, Daud dalam nyanyiannya berkata " manusia itu seperti rumput dan bunga, yang hari ini ada, maka besok sudah tidak ada, bahkan tempatnya pun tidak mengenalinya lagi.

Hidup ini indah dan berharga, namun akan hilang pada waktunya, maka mensyukuri hidup adalah keharusan, karena hidup terlalu singkat untuk di lewati begitu saja.

Salam.

Monday, February 4, 2019

Pemilihan Presiden 2019 dan Media Sosial

Bulan April tanggal 17 tahun 2019 kalau tidak salah akan diadakan pilpres atau pemilihan presiden di Indonesia, agenda tiap lima tahunan bangsa kita untuk memilih pemimpin tertinggi di republik ini. Pemilihan presiden tahun ini menyisakan dua kandidat utama yang akan bersaing untuk menjadi presiden RI yang ke delapan yakni Bapak Joko Widodo dan Bapak Prabowo Subianto sebagai penantang. Riuh pilpres begitu terasa mulai sejak tahun lalu, bahkan sejak pemilihan Gubernur DKI 2017 pun sudah ada aroma persaingan pemilihan presiden.

Perang media sosial pun tidak bisa di elakkan, dua tim kampanye saling serang dan bahkan saling ejek satu sama lain. Lebih banyak hujatan dari pada ide yang ditawarkan, bahkan hujatan yang mengarah pada isu-isu primordial atau politik identitas, seperti agama, suku dan lainnya pun dimainkan. Jika kita membuka media sosial seperti Facebook atau Twitter, maka hampir semua bermuatan politik ataupun aroma pemilihan presiden.

Saya berpendapat bahwa kondisi media sosial saat ini sudah sangat tidak mendidik, dan cenderung memupuk kebencian dan perpecahan. Tidak ada rasa "adem" atau sejuk jika kita membuka media sosial, malah yang ada adalah hawa panas yang sarat kebencian. Bagaimana kalau semua hal negatif itu dilihat oleh anak-anak yang belum bisa berpikir dewasa, kemungkinan besar akan ikut terseret dengan isu-isu perpecahan atau memupuk pikiran-pikiran saling mencela, yang tentu saja sangat berbahaya bagi bangsa yang kita Cintai ini.

Marilah berfikir jernih, lihat sisi baik mana yang paling banyak dari kedua capres, lalu tentukan pilihan. kedua calon presiden adalah putera-putera terbaik bangsa, kita hanya perlu memilih sesuai dengan hati nurani kita dan pertimbangan-pertimbangan akal sehat kita untuk memilih yang terbaik dari kedua calon presiden.
pilihan kita belum tentu pilihan orang lain, jadi tidak perlu memperdebatkan di ruang terbuka yang hanya akan menimbulkan konflik yang tidak produktif bagi bangsa tercinta kita.
Mari isi media sosial dengan hal-hal yang menyejukkan, banyak hal baik selain pilpres yang bisa di tuangkan lewat media sosial.
Salam Pilpres 2019.


Wednesday, October 24, 2018

Malaikat Tak Bersayap

Ilustrasi seorang malaikat
Suatu sore, seperti biasa saya berangkat untuk olahraga di sebuah gelanggang olahraga. Saya menggunakan sepeda motor menuju ke tempat saya biasa berolahraga sore, semua berjalan seperti biasa sampai saya menyadari sesuatu yang tidak biasa terjadi, yakni sepeda motor saya tiba-tiba mengalami mati mesin. Sepeda motor saya tiba-tiba mati mesin di pertengahan jalan raya, dan membuat saya kerepotan karena jalan itu adalah pusat bisnis dan banyak lalu lalang kendaraan baik motor maupun mobil.
Pada saat mati mesin, saya termenung beberapa saat karena merasa heran kenapa motor ini bisa mati mesin, mengingat saya selalu rutin merawat motor tersebut di bengkel resmi. Ada kira-kira 10 menit saya terdiam, sambil sesekali mencoba men starter motor tersebut, dan tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Saya sudah pasrah dan mendorong motor saya ke pinggir jalan, pasrah karena saya tahu persis tidak ada bengkel motor di tempat itu. Bengkel motor begitu jauh, dari tempat kejadian perkara, sekitar 6 km - 7 km.
Saya terpaksa mendorong motor tersebut, dan terlihat orang sekitar melihat saja saya mendorong motor tersebut. Motor yang tadinya berguna tersebut tiba-tiba menjadi seonggok besi yang tak berguna, bahkan hanya menyusahkan saya saja.
Saya mendorong motor tersebut sekitar mungkin 2 menit sampai 3 menit, sembari saya menggiring motor, tiba-tiba ada seseorang yang berkata "kenapa motornya bang?", lalu saya menjawab dengan cepat, "tidak tahu, tiba-tiba saja motor saya mati mesin". Lalu tanpa ragu orang tersebut menawarkan bantuan, sambil berkata "mari saya bantu, saya dorong dari belakang dengan motor saya", dia mengistilahkannya "saya stunt dari belakang". Tanpa ragu, saya menerima tawaran orang tersebut, dan di tengah perjalanan, saya hanya tersenyum geli, melihat motor saya di dorong dengan kaki nya dengan menggunakan motor orang tersebut. Orang tersebut sepintas penampilannya tidak rapih, dan cenderung berpakaian ala kadarnya, dan bahkan terlihat kusam, namun dibalik penampilannya yang kurang meyakinkan, hatinya begitu baik sehingga mau menolong saya.
Akhirnya, sekitar kurang lebih 7 menit sampai 10 menit kami tiba di bengkel motor, dan akhirnya orang tersebut segera melanjutkan perjalanan, sambil berkata " itu ada bengkel, langsung saja di service" ujar nya.
Tanpa berpikir panjang, saya langsung meng "iya" kan dan tidak lupa berkata terimakasih banyak atas bantuannya.

Itulah sepenggal kisah yang menurut saya sangat mengharukan, mengingat pertolongan itu betul-betul saya butuhkan, dan tepat pada waktunya orang tersebut datang menolong. Ya, dia lah yang saya maksud malaikat itu, malaikat yang telah menolong saya dari kesulitan, malaikat tak bersayap yang namanya manusia berhati mulia. Malaikat tidak melulu bersayap, di sekeliling kita banyak malaikat seperti orang tersebut yang dengan rela menolong saya, dan mengorbankan waktunya. Orang-orang yang sepertinya kurang dipandang dunia karena penampilannya, justru dia lah yang membantu saya. Tuhan telah menolong saya dengan mengirimkan malaikat penolong, dia lah manusia yang baik hati, yang namanya pun belum sempat saya ketahui.
Sekian sepenggal kisah mengharukan di sore hari yang saya alami.
Salam

Wednesday, July 11, 2018

Auditor Iman

gambar: ilustrasi hakim; sang pengadil di dunia.
Saya membaca sebuah fan page di facebook dan menemukan kata auditor iman, dua kata yang cukup menggelitik saya. Kata auditor iman adalah sebuah satir dan bernada sindiran yang intinya ingin menyindir seorang politikus yang selalu menyinggung kadar keimanan seseorang. Politikus ini, sebut saja namanya Zongky, beliau selalu mengkritik seseorang dan mengatakan kadar keimanannya dapat ditakar karena mendukung salah seorang capres (calon presiden) tertentu, kebetulan capresnya adalah presiden yang sekarang ini menjabat yakni Bapak Joko Wododo sendiri.
Menarik menelaah kata auditor iman, sejatinya auditor itu sendiri adalah sebuah kata yang menggambarkan jenis pekerjaan tertentu terutama dalam bidang keuangan. Biasanya auditor melakukan verifikasi terhadap catatan keuangan atau alur transaksi keuangan apakah ada pelanggaran atau tidak. Namun auditor sendiri maknanya cukup luas, bisa melakukan pengecekan atau investigasi terhadap sebuah proses bisnis di sebuah perusahaan apakah sesuai dengan standar operasi prosedur atau tidak. Saya sendiri pernah bekerja dalam bidang auditor di sebuah perusahaan pembiayaan kredit motor terbesar di Indonesia selama tiga bulan dalam rangka magang, walaupun hanya tiga bulan, namun banyak sekali pelajaran yang saya dapat, banyak temuan-temuan hasil investigasi saya yang menemukan banyak sekali kecurangan atau pelanggaran prosedur perusahaan, dari mulai konsumen fiktif sampai hal-hal kecil seperti pelanggaran mal administrasi atau sistem pembukuan yang melanggar prosedur perusahaan.

Kembali ke topik semula, yakni auditor iman. Tentu saja di dunia profesi tidak ada pekerjaan auditor iman, mana mungkin seseorang bekerja untuk melakukan penilaian terhadap kadar keimanan seseorang. Hanya Tuhan lah yang dapat menilai keimanan seseorang, dan bukan manusia, kalau manusia yang menilai itu namanya menghakimi.
Namun, kata auditor iman saya pikir sangat relevan saat ini jika kita melihat situasi yang ada. Banyak sekali diantara kita yang sibuk menilai keimanan seseorang, menyinggung atau menuduh kita tidak memiliki iman yang baik. Banyak sekali kita temukan orang atau kelompok tertentu yang menuduh kelompok lain kadar imannya tidak baik atau buruk. Mungkin inilah yang cocok disebut sebagai "auditor iman".

Manusia tidak pantas menjadi auditor iman, karena auditor iman adalah Tuhan itu sendiri. Kita berjuang menjalankan perintah Tuhan, namun Tuhan lah yang menilai usaha kita dalam menjalankan perintah Tuhan.

Semoga kita tidak menjadi auditor iman terhadap sesama, melainkan saling menguatkan dan mengingatkan jika ada yang tidak sesuai dan bukan menuduh atau menghakimi.
Salam.

Monday, July 9, 2018

Renang dan Rasa Takut

gambar: ilustrasi kolam renang
Renang adalah olahraga favorit saya dan selalu rutin saya lakukan selama 3 tahun terakhir, paling tidak seminggu sekali pasti saya olahraga renang untuk kebugaran dan refreshing pikiran. Awalnya saya tidak bisa renang sama sekali, namun karena keinginan dan tekad yang kuat, saya belajar secara perlahan. Belajar renang bukan perkara mudah, apalagi jika tidak ada yang membimbing pasti prosesnya sangat lambat dibanding dengan belajar bersama guru renang. Belajar teknik renang saya lakukan melalui media Youtube, lalu saya praktek kan di kolam renang. Gaya bebas adalah gaya yang pertama yang saya pelajari, lalu kemudian gaya dada, semuanya memiliki tingkat kesulitannya masing-masing. Sampai saat ini pun saya masih terus belajar bagaimana cara renang yang baik, karena belajar tidak ada batas waktu.

Tulisan ini bukan ingin menjelaskan teknik-teknik gaya renang, namun saya mendapat pelajaran lain selain renang itu sendiri. Suatu hari ketika saya berolahraga renang, saya mengalami keram kaki dan segera saya menghentikan aktifitas renang saya dan beristirahat sejenak. Seorang pelatih renang mendekati saya dan bertanya, apakah saya baik-baik saja? lalu saya menjawab, saya baik-baik saja dan hanya perlu beristirahat sejenak. Lalu beliau mengajari saya bagaimana jika mengalami keram otot dan cara mengatasinya. Setelah itu dia sedikit memberi saran kepada saya, bahwa dalam renang, yang paling penting adalah kita bernafas dengan baik, dan tidak panik. Kecepatan tidak perlu dipikirkan, seiring berjalannya waktu kecepatan renang kita akan bertambah bila dilakukan secara konsisten. Hari itu saya mendapat pelajaran berharga, dan untuk berikutnya saya bisa mengaplikasikannya ketika olahraga renang.

Pelajaran berikutnya saya dapatkan ketika saya akan memulai aktifitas renang, saya mulai berenang dari kolam yang dangkal terus menuju kolam yang dalam. Ketika menyusuri kolam yang dangkal, semua berjalan biasa, namun ketika menuju kolam renang yang dalamnya sekitar 3 meter lebih saya mulai takut dan panik. Mendadak saya tidak percaya diri, dan gerakan saya pun menjadi kacau. Akhirnya saya memutuskan untuk menepi, dan menenangkan diri sejenak.
Akhirnya saya belajar bahwa segala sesuatu harus kita lakukan dengan yakin, percaya diri dan yang terpenting adalah tetap tenang baik di kolam yang dangkal, maupun yang dalam.
Pelajaran ini juga dapat saya aplikasikan dalam hidup sehari- hari, yakni tetap tenang dalam kondisi apapun, dan yang terpenting percaya kepada Tuhan sang empunya bumi dan langit. Jika kita tenang dan memiliki iman, niscaya semua perjalanan hidup bisa kita lalui dengan baik.
Itulah pelajaran yang saya dapat ketika olahraga renang, justru pelajaran yang berharga untuk menjalani hidup ini. Saya juga terus belajar bagaimana mengaplikasikan hal tersebut, tidak mudah memang dan butuh keteguhan hati.
Salam Olahraga renang.



Saturday, July 7, 2018

Dunia Hari Ini Berputar Sangat Cepat

Mengapa saya mengatakan dunia ini berputar sangat cepat, waktu seperti sangat singkat kita rasakan saat ini. Saya merasa bahwa kemajuan teknologi yang begitu pesat, perkembangan Internet yang super cepat, teknologi telekomunikasi yang berkembang begitu pesat seperti 4G, dan sekarang menuju 5G membuat kita tidak memiliki lagi batas ruang dan waktu. Media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Instagram, dan juga Line, benar-benar membentuk cara kita berkomunikasi dan berperilaku. Dimana saja, kapan saja, seterpencil apapun tempat anda tinggal, sepanjang ada jaringan internet, anda bisa berkomunikasi dengan siapapun detik itu juga. 


Privasi tidak lagi menjadi hal yang perlu kita pertimbangkan ketika kita ingin berkomunikasi dengan siapapun, ketika kita mengirim pesan, maka detik itu juga akan diterima oleh orang yang kita tuju kapan saja baik pagi, siang, sore, tengan malam sekalipun. Bahkan fitur-fitur di media sosial memungkinkan kita untuk mengetahui apakah pesan kita sudah terbaca atau belum. Luar biasa bukan? jika kita tidak segera membalas, maka akan ada perasaan kita diabaikan dan kemungkinan akan mengganggu hubungan kita selanjutnya. Inilah yang saya katakan betapa privasi benar-benar tidak berbatas lagi di jaman serba cepat ini.

Jika kita flash back di jaman 20 tahun lalu, saya masih ingat bagaimana saya harus mengirim surat lewat pos jika kita ingin menyapa atau berhubungan dengan saudara atau teman kita. Jika saya menerima surat dari nenek, maka tiap kata begitu berarti yang ditulis dalam tulisan di surat tersebut. Mengapa? karena jaman dahulu, jika kita mengirim surat, maka akan memakan waktu berminggu-minggu bahkan lebih tergantung lokasi kita mudah dijangkau atau tidak oleh petugas pos. Sehingga jika surat tersebut sampai di tangan kita, maka betapa gembira hati kita ketika menerima surat tersebut.

Saya benar-benar merindukan masa itu, dimana waktu berputar lambat, namun begitu berharga dan berarti tiap menitnya. Teknologi benar-benar merubah segalanya, merubah kita berperilaku dan berkomunikasi. Jangan sampai teknologi yang mengatur hidup kita atau bahkan membentuk perilaku kita, kita lah yang harus mengatur teknologi. Kita yang menentukan kapan teknologi itu harus kita gunakan, dan kapan kita harus istirahat dengan semua teknologi tersebut. 
Manusia yang empunya teknologi, bukan teknologi yang menguasai kita.
Salam

Friday, July 6, 2018

Piala Dunia dan Pilkada

Raina Premiera Gumay, anak Indonesia yang menjadi player escort/pendamping sepakbola di Piala dunia Rusia 2018
Piala Dunia dan Pilkada, dua kata berbeda, namun memiliki makna yang sama yakni berkompetisi untuk menjadi pemenang. Pilkada (Pemilihan kepala daerah) adalah ajang pertarungan orang-orang yang ingin menjadi pemimpin di suatu daerah, sedangkan piala dunia adalah kumpulan tim sepak bola terbaik dari berbagai negara yang ingin menjadi juara piala dunia. Pilkada dan Piala dunia sama-sama menuntut kejujuran atau fair play dari setiap kontestan, dalam piala dunia sudah ada wasit yang akan mengadili pemain bila ada yang tidak sesuai dalam aturan sepak bola, dan bila terjadi pelanggaran, wasit langsung menindak pemain pada saat itu juga dan kita pun dapat melihat dan menilai apakah wasit jujur atau tidak. Dalam Pilkada, pelanggaran oleh peserta pemilu akan ditindak oleh wasit yang namanya Bawaslu (badan pengawas pemilu).

Pilkada yang bersih akan menciptakan seorang pemimpin yang jujur dan terlegitimasi di dalam masyarakaat, dan tentu pada akhirnya rakyat akan memiliki pemimpin yang berkualitas, dan bebas korupsi. Betapa pentingnya memilih pemimpin yang berkualitas, karena nasib rakyat banyak akan ditentukan oleh pemimpin tersebut. Sama dengan pilkada, piala dunia yang bersih dan fair play, akan membuat pertandingan enak di tonton dan menghibur. Bayangkan jika salah satu tim, bahkan tim favorit kita melakukan tindakan yang tidak fair dilapangan hijau, pertandingan pun akan tercoreng dan tidak menghibur dan tontonan pun akan menjadi tidak menarik.

Saya pribadi memandang antara piala dunia dan pilkada sama tapi tak serupa, persamaannya sudah diuraikan diatas. Perbedaannya adalah piala dunia menyajikan pertandingan yang menghibur kita, terutama karena saya pencinta sepak bola. Namun dalam pilkada, banyak hal-hal yang membuat dahi berkerut, entah itu karena persaingan yang tidak sehat atau pun perilaku dari para calon pemimpin tersebut yang mengumbar kebencian, fitnah dan seringkali dilakukan terang-terangan oleh para pendukung calon pemimpin tersebut.

Di Televis nasional, terutama TV berita, hampir semua berita di dominasi oleh berita pilkada atau politik, dan membuat kita jemu bahkan membuat contoh yang tidak baik bagi masyarakat yang menonton jika ada tindakan yang tidak fair yang dilakukan oleh para pendukung maupun calon pemimpin itu sendiri.
saran saya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu membatasi TV nasional dalam menayangkan berita politik, supaya masyarakat tidak terpapar oleh dampak negatif dari berita-berita politik tersebut walaupun tidak selalu demikian, namun kebanyakan berita politik dipenuhi dengan kampanye kebencian, intrik, dan persaingan yang tidak sehat.
Piala dunia,menyajikan tayangan-tayangan segar dan menarik, serta menghibur penonton dan menjadi inspirasi bagi kita agar bisa memajukan sepak bola Indonesia dan berharap suatu saat Indonesia bisa tampil di piala dunia selanjutnya.

Kesimpulan penulis, piala dunia lebih memancarkan aura positif dari pada pilkada terutama di layar kaca. Walaupun Pilkada banyak memancarkan aura negatif, namun kita tidak boleh anti atau apatis terhadap politik, karena politik mau tidak mau menentukan nasib kita kedepan. Menonton dengan akal sehat dan menyaring informasi, adalah cara agar kita tidak keracunan dan terpapar efek negatif berita politik.
Salam piala dunia yang menarik, dan pilkada yang membosankan.