Sunday, June 2, 2013

Kemampuan Membuat Keputusan


Dalam kehidupan, kita selalu membuat sebuah keputusan-keputusan baik itu besar atau pun keputusan kecil. Contoh sebuah keputusan misalnya keputusan memilih sekolah, keputusan memilih pekerjaan, atau bahkan memilih menu makanan. Kita sering mendengar bahwa banyak orang tidak mampu membuat keputusan secara cepat. Terlalu banyak pertimbangan untung rugi dan sifat yang plin plan membuat keputusan semakin lama kita buat.

Saya setuju dengan perkataan orang yang mengatakan bahwa kita memang harus membangun skill untuk membuat keputusan secara cepat dan tepat. Boleh saja kita mengukur untung rugi akan sebuah keputusan yang akan kita ambil, namun jangan terlalu banyak memakan waktu sehingga menjadi wasting time. Lihat saja pemerintah yang plin plan dalam mengambil keputusan tentang dihapus atau tidaknya subsidi BBM (bahan bakar minyak), yang dibuat bingung bukan hanya pemerintah itu sendiri, namun masyarakat luas di buat bingung akan ketidakjelasan tersebut.

Menurut saya, kita harus mampu membuat keputusan secara cepat, dan tepat, dan yang paling penting tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Kesalahan adalah hal biasa, namun ketegasan adalah hal luar biasa yang harus dibangun sejak dini.





Sunday, May 5, 2013

Pertolongan Tuhan - Sebuah Puisi









Hidupku penuh dengan kenyarisan,
Nyaris tidak bisa sekolah dasar, tetapi bisa sekolah,
nyaris tidak bisa kuliah, tetapi mendapat gelar Master,
nyaris jadi pengangguran abadi, tetapi sekarang bekerja.

Tuhan memang dahsyat,
ketika tampak tidak ada harapan, dia memberi kepastian,
ketika kita lelah berusaha, dia memberi pertolongan.

Dan aku percaya,
masih akan ada kenyarisan lainnya yang akan kualami,
tetapi seperti biasa,
Dia memberi pertolongan tepat pada waktunya,
juga sekedar mengingatkan aku,
bahwa tanpaNya, aku bukanlah siapa-siapa.



Sunday, April 28, 2013

Jakarta Jaman Dahulu


Jika kita membayangkan Jakarta jaman dahulu, maka kita akan di buai dengan keindahan dan nostalgia masa itu. Walaupun saya tidak lahir di jaman itu, tapi imajinasi, dan khayalan kita di bawa ke masa itu. Kita dihanyutkan oleh keadaan, kepolosan, dan kealamian kota Jakarta kala itu.

Kalau saja ada mesin waktu nya Doraemon, saya ingin kembali ke jaman itu, merasakan Jakarta tempo dulu yang polos, dan alami, jauh dari kesan kotor, sembrawut dan banyak kemunafikan seperti saat ini.

Marilah kita sejenak berimajinasi dengan melihat foto-foto Jakarta masa lalu. Berikut fotonya:
Jl. Merdeka Barat-Thamrin thn.1950

Masjid Al-Azhar, bagian depannya masih kosong.

Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta

Suasana di Jl.Jend.Sudirman dgn bus tingkatnya, gedung ini msh ada sampai  sekarang

Patung Pancoran, masih belum ada fly over

Pasar Senen, terlihat masih sepi

President Taxi, taxi jaman dulu, dgn penumpang segambreng

Hayam Wuruk thn.1948

Gadjah Mada thn.1950

Harmoni, 1954

Djati Negara, 1955

Menteng Raya, 1955


Tanah Abang, 1955

Gedung Kesenian

Katedral, 1880

Sumber foto : Blogdetik.com

Sunday, April 7, 2013

Esensi Perubahan Kurikulum (Repost)

Minggu lalu (31 Maret 2013), saya memposting sebuah artikel di Kompasiana  yang judulnya Esensi Perubahan Kurikulum. Artikel ini disambut baik oleh para pembaca Kompasiana, dan di recommend di beberapa jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, artikel ini pun sempat nangkring di highlight nya kompasiana sebagai artikel menarik dan aktual. Berikut saya tampilkan kembali artikel tersebut, semoga bermanfaat bagi pembaca.
                                                                
                                                                      *****


Kurikulum didefinisikan sebagai perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara yang berisi rancangan pelajaran yang didalamnya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum hendaknya dirancang sesuai dengan kultur dan cita-cita nasional yang pada akhirnya menciptakan generasi-generasi yang cerdas, humanis dan berakhlak mulia.

Di Indonesia, kurikulum selalu berganti dari tahun ke tahun, dari menteri ke menteri yang pada akhirnya memusingkan guru, dan para siswa itu sendiri, dan itu masih terus terjadi sampai saat ini. Menurut saya, mengganti kurikulum adalah perkara mudah, cukup sediakan budget untuk rapat, siapkan ahli-ahli pendidikan, dan cetak buku-buku baru, mudah bukan! Tapi esensi dari pendidikan bukanlah seberapa canggih kurikulum itu dibuat, seberapa menyulitkan kurikulum itu dibuat, dan juga bukan seberapa pusingnya siswa dibuat oleh kurikulum tersubut, melainkan seberapa efektif dan efisien kurikulum itu dibuat, sehingga menciptakan generasi-generasi yang cerdas, humanis, anti korupsi, dan kreatif dan inovatif.

Di tahun 1990 an kita mengenal kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA), di tahun 2004 kita di kenali lagi dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi, kemudian ditahun 2006 lagi-lagi kita di cekoki dengan kurikulum baru yakni kurikulum tingkat satuan pendidikan. Mungkin ada beberapa guru yang mengalami semua kurikulum tersebut, dan orang tersebut pastilah sudah jadi “dewa kurikulum nasional”.

Buat saya, siswa, guru, dan ahli-ahli pendidikan yang sering bicara di TV-TV nasional perlu dilibatkan dalam merancang kurikulum nasional. Bukan hanya pemerintah, dalam hal ini departemen pendidikan saja yang selalu memiliki hak prerogratif untuk merubah kurikulum tanpa melibatkan secara aktif semua stakeholder didalamnya.
Sekali lagi, bukankah menciptakan guru-guru berkualitas lebih penting dari pada mengganti kurikulum, bukankah membangun sekolah dengan fasilitas baik lebih penting, bukankah membuat pendidikan yang berkualitas dan dapat dirasakan oleh semua rakyat dari Aceh sampai Papua juga lebih penting dari pada sibuk gonta ganti kurikulum.


Berhentilah hanya berfikir kuantitafif semata, cobalah berfikir lebih substantif dan kualitatif dengan menciptakan pendidikan yang tangguh tanpa harus gonta ganti kurikulum semata.
Ada kelakar mengatakan kurikulum yang baik adalah kurikulum yang memusingkan siswa, sehingga siswa takut pergi kesekolah, semoga saja ini tidak terjadi.
Tan Malaka tidak mengenyam pendidikan,
Pramoediya Ananta Toer sekolahnya tidak tinggi sampai kuliah, tapi karyanya diakui dunia…


Salam Kurikulum…

Sunday, March 31, 2013

Semangat Menulis Kembali Muncul

Hari ini saya sangat senang, karena tulisan saya masuk kedalam highlight Kompasiana edisi minggu 31 Maret 2013 alias hari ini. Tidak sembarang tulisan bisa masuk highlight Kompasiana, karena mungkin selain harus banyak yang baca juga tulisan harus informatif dan inspiratif.
Saya sendiri tidak menyangka tulisan saya bisa masuk highlight Kompasiana, karena menurut saya biasa biasa saja artikel yang saya tulis.
Artikel yang saya tulis hari ini adalah berjudul Esensi Perubahan Kurikulum, yang sedikit banyak bercerita seringnya pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan nasional mengganti kurikulum yang ada. 

Artikel saya tentang Esensi Perubahan Kurikulum, yang terpampang di Kompasiana ter atas di Highlight
Saya sangat senang, karena dari sekian banyak artikel yang saya tulis, ada satu yang masuk highlight Kompasiana. Senang karena jika artikel kita masuk highlight Kompasiana, maka, foto dan artikel kita akan terpampang cukup lama di halaman depan Kompasiana, otomatis akan banyak yang melhat foto dan artikel saya hehehe.

Ini membuat saya kembali semangat untuk menulis dan menulis lagi, selain untuk mempertajam ilmu saya, menulis juga mungkin bisa men share ilmu kepada khalayak ramai.
Berikut adalah link dari artikel saya yang di highlight di Kompasiana:



Sunday, March 3, 2013

Jehovah Jireh -Allah Menyediakan-

Jehovah Jireh dalam bahasa Ibrani artinya Allah Menyediakan. Itulah yang saya rasakan baru-baru ini, disaat saya membutuhkan sesuatu yang mendesak dan dirasa perlu, selalu saja ada jalan atau cara untuk mendapatkan hal tersebut. Saya bekerja di sebuah perusahaan di daerah kuningan tepatnya di jalan Rasuna Said, untuk mencapai tempat kerja tersebut, dari tempat tinggal saya di daerah Kranggan, Bekasi membutuhkan waktu kurang lebih 2,5 jam perjalanan, bahkan bisa lebih. Setiap pagi harus berangkat pukul 5 pagi, dan pulang paling cepat pukul 8.30 malam. Rutinitas seperti ini membuat saya sangat tidak nyaman dan seperti sebuah "hukuman" ketika pergi ke kantor. Kondisi ini membuat saya memiliki absensi yang lumayan buruk, dengan beberapa kali membolos dan terlambat bekerja, karena faktor kelelahan.

It's enough! Saya memberanikan diri untuk mencari tempat kost-kostan di daerah tempat saya bekerja, walaupun lumayan mahal, tetapi dari pada harus tersiksa menghadapi kemacetan, tak apalah!
Usut punya usut, saya mencari dengan teman saya sekantor, dan akhirnya kost-kostan pun di temukan, setelah berkeliling sekitar satu jam. Dan yang membuat saya lebih senang lagi, ada kost-kostan yang terbilang cukup murah jika dibandingkan dengan kost-kostan lainnya dibilangan elit Kuningan, yang merupakan pusat bisnis di Indonesia. Dengan harga cukup murah yaitu Rp.500.000, dan dengan kamar yang lumayan besar untuk  satu orang, lengkap dengan tempat tidur, meja, lemari, kamar mandi di luar, dan air minum yang selalu tersedia.

Ada kejadian unik disini, awalnya saya tidak jadi kost di tempat ini, karena sedikit ragu-ragu dan saya pun melanjutkan dengan rutinitas yang menyebalkan dan cukup menguras energi, yaitu pulang pergi kekantor dari Bekasi - Kuningan. Sebulan berjalan, saya pulang pergi ketempat kerja dari rumah saya di bilangan bekasi, dan akhirnya jatuh sakit.


No Choice! akhirnya saya pun kembali mencari tempat kost di daerah tempat saya bekerja. Waktu berjalan, tidak ada tempat kost yang kosong, semua penuh, yang ada tinggal yang mahal-mahal, dan ber AC. Akhirnya saya pun kembali ketempat semula dengan menanyakan tempat kost yang pernah saya tanyakan dan yang murah tersebut, ternyata tempat masih ada! perjuangan pun berakhir sampai disini!
Namun ternyata harga sedikit naik, karena yang punya kost mengatakan harga naik sebesar 50 rb, karena tarif listrik naik, Dalam hati saya bergumam... Asem...! pake naik segala.. Dalam hati tidak apalah, tetap saja masih terbilang murah dengan harga seperti itu di bilangan kuningan, mungkin termurah di seantero kuningan. Saya tetap bersyukur!

memang benar seperti ada tertulis....

Jehovah Jireh....

Tuesday, February 19, 2013

Turn Over Terlalu Over!


Bekerja adalah impian setiap orang, terlebih di Indonesia. Mangapa? karena dengan bekerja orang memiliki penghasilan, terlebih status sosial. Ya, status sosial karena orang yang bekerja dianggap lebih cakap, lebih sukses dan mampu bersaing ditengah lapangan pekerjaan yang sangat minim di negeri ini.
Tingkat pengangguran di Indonesia per Agustus tahun 2012 berkisar sebesar 6,14 % dengan jumlah 7,24 juta orang (detik finance, 5 Nov 2012). Angka yang cukup besar bukan?

Mengapa bekerja, lebih tepatnya lagi menjadi karyawan lebih menjadi pilihan masyarakat ketimbang menciptakan lapangan pekerjaan alias menjadi pengusaha? sebagian orang mengatakan bekerja dengan orang lain lebih aman ketimbang membangun usaha sendiri, dengan kata lain membuat usaha sendiri lebih beresiko dan rawan bangkrut. Sebagian lagi mengatakan, bekerja hanya ingin mencari pengalaman bekerja, mencari ilmu, sehingga suatu saat nanti dapat mendirikan bisnis sendiri dengan modal ilmu yang didapat, dan banyak lagi alasan lainnya.


Kondisi dimana jumlah angkatan kerja yang membludak membuat para angkatan kerja dihargai dengan sangat rendah. Bukan rahasia umum lagi, seorang angkatan kerja dengan titel sarjana, di gaji tidak sebanding dengan tingkat pendidikannya. Namun masyarakat tidak punya pilihan, ya tidak punya pilihan, dibanding menganggur lebih baik bekerja sambil mencari pengalaman dan kesempatan yang lebih baik.

Pengalaman saya bekerja di sebuah perusahaan multinasional asing, bahwa banyak karyawan yang dihargai tidak sebanding dengan tingkat pendidikan, dan juga tanggung jawabnya. Bahkan tingkat turn over nya pun terbilang tinggi. Perusahaan seperti ini saya anggap adalah perusahaan yang tidak memiliki empati tehadap karyawannya, dan ini pun berimbas terhadap performance karyawan.
Karyawan tidak lagi memiliki loyalitas, terbukti dengan tingginya tingkat turnover di perusahaan ini, pelayanan terhadap customer yang tidak prima. Dan herannya lagi, tidak ada keinginan untuk merubah diri, dan memperbaiki diri agar lebih baik lagi.
Perusahaan ini seperti dikendalikan oleh orang buta yang tidak tahu keadaan sedang bahaya dan hanya berjalan tanpa arah tujuan dan nilai-nilai yang jelas.

Ya, itulah sekelumit kondisi dunia kerja di Indonesia, para pekerja hanya dianggap sebagai alat produksi yang dihargai sangat rendah.
Walaupun turn over terlalu over, buat mereka tidak masalah, toh ada ribuan lamaran pekerjaan yang masuk, dan siap mengganti yang keluar.
Jadi turn over terlalu over? siapa takut....!




Friday, January 18, 2013

Massive Flood 2013 in Jakarta!

H.R.Rasuna Said, Kuningan, near my office.


Rescue team help citizens in Bundaran HI, jakarta

flood victims eat food

Mr.President & Foreign Minister check flood at State Court

Business District of Jakarta (Bundaran HI) 

Kampung Melayu, flood almost cover the roof

Fight the flood with motorcycle

angry officer




We hope this will not happen in the future. Government and society should find the solutions together, and not to blame each other.

Pictures from several local media, Flood on January 17, 2013 in Jakarta.

Tuesday, December 25, 2012

Anomali Toleransi Beragama di Indonesia


Hari ini umat Kristen di Indonesia merayakan hari raya Natal, seperti biasa perayaan berlangsung meriah dan ramai di berbagai daerah. Beberapa stasiun TV menayangkan prosesi perayaan natal diberbagai gereja di Indonesia. Acara-acara bertemakan natal pun bermunculan di televisi, seperti paduan suara, khotbah natal, misa natal, dan bahkan ucapan selamat natal mulai dari masyarakat umum, pejabat pemerintah, sampai pimpinan partai politik bertaburan di televisi. 

Sepintas perayaan natal tahun ini terlihat berjalan lancar, aman, dan terkendali, kalo dilihat di televisi.... Tapi tahukah kita, ada dua peristiwa penting di perayaan natal kali ini, yang menurut saya adalah gambaran atau lebih tepatnya representasi dari kehidupan toleransi beragama di Indonesia, apakah itu?
pertama, saudara-saudara kita yang ingin merayakan natal di HKBP Philadelpia Bekasi tidak dapat merayakan natal karena dihadang oleh sekelompok massa yang tidak ingin jemaat Philadelpia merayakan ibadah natal (Kompas, 25 Dec, 2012). Kedua, jemaat GKI Yasmin di Bogor pun mengalami nasib serupa, dihari natal, jemaat GKI Yasmin yang ingin merayakan natal dihadang oleh Satpol PP, akibatnya jemaat tidak bisa melakukan ibadah di GKI Yasmin.

Jemaat HKBP Philadelphia dan GKI Yasmin melakukan ibadah natal di depan istana negara (sumber : Kompas ,25  Dec 2012)
Peristiwa yang tidak kalah anehnya adalah pemandangan Natal yang seharusnya pemandangan yang damai, ceria, dan tentram justru sebaliknya, polisi berpakaian preman, dan berpakaian dinas bertebaran di gereja-gereja di berbagai daerah. Natal yang seharusnya terlihat damai dan sejuk, malah seperti peristiwa sedang terjadi perang dan harus dijaga agar tidak dihancurkan orang. 

Saya ingin bertanya, dimana letak toleransi dan kebebasan beragama ? dimana peran pemerintah yang KATANYA melindungi hak-hak kaum minoritas ? dan bukankah kebebasan menjalankan ibadah dijamin undang-undang ? katanya negara hukum, kok hukum rimba yang berlaku...weleh weleh ....
Peristiwa tersebut sudah terjadi berlarut-larut tanpa ada solusi dan keinginan pemerintah untuk menyelesaikan masalah secara tegas.

Saya juga menantikan tindakan Pak SBY yang tegas dan berani, sebab beliau baru saja mendapatkan gelar kehormatan kesatria dari Kerajaan Inggris. 

Sekali lagi inilah anomali kehidupan toleransi di negeri ini, pejabat-pejabat dengan wibawa mengatakan negeri ini negeri yang aman , saling menghormati, tepo seliro, bertoleransi, di saat yang bersamaan tawuran antar kampung terjadi dimana-mana, ibadah keagamaan kerap terganggu.

Tulisan ini tidak bermuatan politik, sara, kebencian, atau apapun yang negatif....hanya mencoba melukiskan kegelisahan hati sang penulis, dan berharap kedepan keadaan semakin membaik.

Selamat Hari Natal.

Salam untuk Indonesia yang lebih baik.

Saturday, December 15, 2012

Evaluasi di Tahun 2012


Tidak terasa tahun 2012 akan segera berakhir dan tahun baru 2013 segera tiba. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang kita alami di tahun ini, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Buat saya tahun 2012 adalah tahun yang cukup berkesan, mengingat banyak sekali peristiwa yang penting, menegangkan, dan juga yang kurang menyenangkan yang saya alami. Namun semua pengalaman itu sangat berharga dan menjadi pelajaran hidup bagi saya untuk melangkah kedepan.


Sebagian besar dari kita tentunya telah mempersiapkan resolusi atau goals, atau cita-cita yang ingin dicapai di tahun 2013. Terkadang sangkin semangatnya mempersiapkan resolusi atau cita-cita ditahun baru, kita lupa untuk me review atau melakukan kilas balik di tahun 2012 yang akan segera kita tinggalkan. Menurut saya, membuat resolusi atau keinginan-keinginan yang ingin dicapai ditahun baru adalah hal yang wajar dan sangat baik. Namun, melakukan kilas balik ataupun mengingat kembali peristiwa yang lalu untuk bahan evaluasi kedepan tidak kalah pentingnya dengan membuat resolusi tahun baru.

Melakukan kilas balik adalah penting sebagai bahan pelajaran bagi kita dan sebagai modal penting untuk mencapai keinginan atau goal di tahun baru. Bahkan kita bisa belajar dari kesalahan dimasa lalu agar tidak terulang kembali dimasa depan. Belajar dari kesalahan dimasa lalu buat saya adalah sekolah informal yang penting, bahkan sama pentingnya dengan sekolah formal di kelas. Pemimpin perusahaan besar seperti Microsoft mengatakan kepada karyawannya untuk tidak takut melakukan inovasi dan belajar dari kesalahan yang dibuat dimasa lalu. Jika karyawanya membuat kesalahan, perusahaan tidak menganggap sebagai cost atau biaya, namun sebagai investasi karena telah "menyekolahkan" karyawannya   dan agar "belajar" dari kesalahan yang telah dibuatnya untuk mengembangkan dirinya dimasa depan.

Bagaimana dengan anda? apakah anda sudah mempersiapkan resolusi di tahun 2013 dan juga mengevaluasi perjalanan anda selama tahun 2012 ini ?

Selamat mengevaluasi tahun 2012 anda dan menyambut tahun baru 2013 dengan rencana dahsyat anda.

Salam.





Wednesday, December 5, 2012

Pemimpin Hasil "Produk Iklan"



Pemimpin secara sederhana diartikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mendorong orang lain untuk melaksanakan rencananya. Banyak Teori yang menjelaskan tentang arti dari pemimpin itu sendiri, dan teori kepemimpinan selalu berkembang dari masa ke masa.
Secara struktural, pemimpin merupakan sosok yang memiliki kedudukan yang tinggi, dihormati, dan tentunya memiliki kekuasaan untuk menentukan sebuah kebijakan karena kekuasaannya yang besar.


Seseorang tentu tidak serta merta diangkat menjadi seorang pemimpin, ada proses yang harus dilalui. Untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang harus memiliki karya yang diakui oleh masyarakat luas sebagai sebuah keberhasilan, dan karya nya dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Jadi tidaklah mungkin seseorang tiba-tiba diangkat menjadi seorang pemimpin, tanpa adanya proses panjang yang berliku. Sebagai contoh, anda tentu mengenal Joko Widodo (Jokowi), seorang Gubernur DKI Jakarta, yang dipilih langsung oleh rakyat. Jokowi adalah mantan Wali kota Solo, yang menurut rakyat Solo, Jokowi merupakan pemimpin yang jujur, sederhana, peduli rakyat, dan setiap kebijakannya dilakukan untuk kepentingan rakyatnya. Saya bukan juru kampanye Pak Jokowi, tapi itulah yang dinamakan pemimpin yang merakyat, dikenal rakyatnya tanpa harus diiklankan di televisi dan spanduk-spanduk dijalanan yang sangat mengganggu pemandangan. Anda juga tentu kenal dengan Ali Sadikin, yang merupakan tokoh yang berjasa membangun Kota Jakarta. Dalam memerintah Jakarta selama periode 1966-1977, beliau berhasil membangun kota Jakarta menjadi kota metropolitan, beberapa karya nya yang berhasil dibangun dan dirasakan hingga kini adalah Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Taman Impian Jaya Ancol, dan lain sebagainya. Jokowi dan Ali Sadikin tentu bukanlah orang yang sempurna sebagai pemimpin,banyak pula keputusan-keputusan yang kontroversial yang mereka buat sebagai pemimpin. Tapi lepas dari itu semua, beliau dikenal karena karyanya yang nyata untuk masyarakat luas.



photo: Ali Sadikin
Singkat kata, mereka bukanlah pemimpin yang dikenal karena banyaknnya iklan mereka di televisi, dan spanduk-spanduk di jalanan. Mereka dikenal karena KARYA NYATA, bukan KATA-KATA.

                                              *****

Apa itu pemimpin produk iklan? pemimpin produk iklan adalah pemimpin yang popularitasnya ditentukan oleh banyaknya iklan di televisi. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang kurang dikenal di masyarakat luas, tidak populer, dan "kurang laku", sehingga ibarat produk yang tidak terkenal perlu publikasi, dan kampanye besar-besaran di media massa guna meningkatkan "elektabilitasnya". Apakah kita sadar bahwa media-media masa seperti televisi, merupakan alat propoganda dan sarana kampanye tokoh-tokoh tertentu di televisi. Beberapa stasiun TV, yang dimiliki oleh tokoh-tokoh terkenal sudah mulai gencar membuat iklan tentang dirinya dan partainya melalui media massa. Terjadilah "perang Iklan" yang menghiasi layar kaca, dan kampanye iklan tersebut sering kali diselipkan pada acara-acara yang memiliki rating penonton yang tinggi.
Fakta membuktikan bahwa pemimpin yang dikenal melalui produk iklan pada titik tertentu akan hilang dengan sendirinya, dan tidak bertahan lama di benak masyarakat, karena mereka tidak merumput dan merakyat.  Masyarakat yang kritis dan memiliki pengetahuan luas, tentu akan melihat mana pemimpin yang memilik jejak rekam bagus dan mana yang tidak, namun bagaimana dengan rakyat yang memiliki keterbatasan informasi, dan pendidikan yang kurang? merekalah yang menjadi sasaran para "pemimpin produk iklan ini" untuk meraup suara dan elektabilitas. Namun sekali lagi, iklan di televisi mungkin saja efisien untuk memperkenalkan mereka kepada orang banyak, namun belum tentu efektif untuk meraih simpati rakyat.Yang sekali lagi, rakyat hanya berfikir sederhana, siapa yang memimpin secara tulus, dan yang karyanya dirasakan, itulah yang akan mereka pilih.


Ciri dari pemimpin yang dicintai rakyatnya adalah pemimpin yang melayani dan bukan yang ingin dilayani dan di hargai rakyatnya.


Salam!








Monday, November 19, 2012

Temuan Berharga di Hari Senin


Hari ini, Senin tanggal 19 November 2012 saya bener-benar dibuat kesal oleh kemacetan dan Busway Transjakarta yang menyebalkan. Bagaimana tidak, perjalanan selama tiga jam di pagi hari dari rumah ke tempat kerja di bilangan kuningan membuat stress berat, fiuh....Selama satu jam harus menunggu Busway Transjakarta di halte UKI, dan situasi penumpang yang sangat padat tidak manusiawi. Jika di deskripsikan, kami para penumpang busway transjakarta seperti para pengungsi bencana alam yang sedang di ungsikan, dan harus masuk kedalam bus yang sudah melebihi kapasitas penumpang. Beberapa penumpang berteriak teriak kesal dan marah, bahkan ada yang hampir berkelahi dengan penumpang lain akibat emosi yang sudah tak terkendali, mungkin jika ada Bung Rhoma Irama, beliau akan berkata TERLALU....!
Beberapa  penumpang pun bertanya kepada pegawai Halte Bus Transjakarta, seperti biasa.... jawaban nya adalah mereka tidak tahu mengapa semua ini terjadi...dan semakin membuat penumpang semakin kesal. Dasar Pemerintah! Payah! Goblok! itulah celetukan-celetukan yang keluar dari para penumpang yang sudah sangat kesal.

                                                               ****

Ok, curhat sampai disitu, dan kita kembali ke judul awal postingan ini. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah karena sudah sangat terlambat untuk tiba di kantor, dan saya laporan ke salah satu teman saya memberitahukan musibah yang saya alami itu.
Sesampainya di rumah, saya membuka google search dan WOW...! tanpa disengaja saya menemukan karya tulis saya yang dimuat di website Taiwan Academic Institutional Repository, sebuah website karya ilmiah di Taiwan. Saya baru ingat, waktu program S2 di Taiwan dosen saya menyuruh membuat topik tentang Corporate Social Responsibility, dan ternyata tulisan saya di muat di website tersebut, mungkin bukan hanya saya kali y....karena ke PD-an hehehe. Tetapi tetap saja ada sedikit kebanggaan dan hiburan ditengah kekesalan di pagi hari tadi. Ya, paling tidak tulisan saya bisa jadi bacaan orang banyak, dan sukur-sukur bisa buat referensi. Amin...

Baiklah, itulah temuan saya hari ini yang sangat berharga, selain temuan lainnya, yaitu bahwa management busway sepertinya kehilangan akal untuk mengatasi penumpukan penumpang di halte busway....atau mereka tidak perduli, yang penting penumpang membludak dan uang pun mengalir  hehehe, maklum masih belum hilang keselnya...


Salam.

Buat para pembaca yang ingin melihat karya ilmiah saya yang baru saya temukan itu, ini link-nya:




Sunday, November 18, 2012

Loyalitas Karyawan dan Penghargaan Perusahaan


Beberapa hari ini kita sering mendengar aksi buruh yang menuntut kenaikan upah yang layak di berbagai daerah di Indonesia. Buruh merasa bahwa selama ini upah yang mereka terima tidak layak untuk standar hidup mereka. Dari hasil diskusi Tripartit antara pemerintah, serikat pekerja, dan pengusaha, disepakati bahwa upah minimum provinsi di Jakarta sebesar Rp.2.200.000, angka ini lebih rendah dari tuntutan buruh yang meminta upah sebesar Rp.2,700.000. Namun demikian, nampaknya buruh menerima keputusan ini walaupun tidak sesuai dengan tuntutan awal mereka, dan hal ini akan ditetapkan selanjutnya dalam undang-undang ketenagakerjaan menjadi upah minimum propinsi di DKI Jakarta.

Selama ini, kita memang sering mendengar bahwa kaum buruh, yang nota bene adalah pekerja-pekerja di pabrik dan tingkat pendidikannya relatif menengah kebawah, sering kali mengeluh dengan upah yang tidak mencukupi standar hidup mereka, dan pengusaha pun cenderung memanfaatkan situasi dengan menekan upah buruh agar menekan biaya perusahaan. Tingkat pendidikan yang rendah, dan lapangan pekerjaan yang terbatas membuat buruh tidak memiliki pilihan selain menerima nasip apa adanya.

Disisi lain, saya mendengar keluhan dari beberapa teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan swasta dan mayoritas karyawannya memiliki tingkat pendidikan relatif tinggi, dengan rata-rata setingkat sarjana. Sering kali saya mendengar keluhan dari beberapa teman saya yang mengatakan bahwa tingkat gaji, dan tunjangan yang diterima masih kurang layak jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan tanggung jawab pekerjaan mereka. Beberapa keluhan mereka  antara lain adalah gaji yang kurang sesuai, penghargaan yang kurang, dan sebagian mengatakan lingkungan teman kerja mereka yang kurang bersahabat.
Sumber Gambar : Harian Semarang.

Pertanyaan saya adalah, apakah keluhan-keluhan karyawan tersebut tidak terdeteksi oleh pihak manajemen perusahaan atau mungkin mengetahui tetapi kurang tanggap terhadap keluhan karyawan tersebut.
Beberapa dampak yang ditimbulkan dari pembiaran tersebut adalah tingkat produktivitas menurun, loyalitas karyawan yang rendah, turn over yang cukup tinggi, dan bahkan dapat menimbulkan fraud kejahatan korupsi dll. 

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan loyalitas karyawan terhadap perusahaan, dan dikenal dengan 5 R, diantaranya adalah :

  1. Respect, perusahaan seharusnya menghormati dan menghargai karyawan selayaknya seorang manusia dan karyawan yang memiliki hak-hak dan aspirasi yang harus diperhatikan, dan bukan memandang karyawan atau buruh semata-mata sebagai mesin produksi para pengusaha.
  2. Responsibility, pengusaha atau perusahaan seharusnya bertanggung jawab terhadap karyawannya jika ada masalah yang di hadapi karyawan dengan memperhatikan hal-hal yang dapat diberikan perusahaan untuk membantu karyawan yang kesulita tersebut.
  3. Reward, walaupun beberapa penilitian menyimpulkan bahwa reward atau penghargaan dalam bentuk materi tidak yang utama, namun hal ini cukup membangkitkan semangat dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan, karena merasa kerja dan prestasi mereka dihargai.
  4. Revenue distribution atau distribusi pendapatan, perusahaan dapat memberikan bonus jika perusahaan mendapatkan penghasilan yang melampaui target, biasanya diberikan pada akhir tahun .
  5. Relaxing Time, berikan karyawan hari libur yang cukup atau cuti agar mengurangi tingkat stress karyawan sehingga produktivitas meningkat, tentunya disesuaikan dengan kondisi perusahaan.
Itulah poin-poin yang seharusnya diperhatikan oleh pengusaha atau perusahaan demi menjaga loyalitas, dan prodiktivitas karyawan, sehingga karyawan tidak merasa hanya jadi alat produksi oleh pengusaha semata mata, melainkan manusia yang diperhatikan hak-haknya.

Pengusaha tidak bisa berjalan tanpa buruh dan karyawan, begitu pun sebaliknya. Maka saling menghargai salah satu kunci keberlangsungan hidup keduanya.

Salam.