Sunday, March 9, 2014

12 Years a Slave dan Realitas Masa Kini

Film yang di sutradari Steve McQueen, dan dibintangi oleh aktor aktor ulung seperti Brad Pitt, Ciwetel Ejiofol, Michael Fassbender dll menceritakan kisah perbudakan pada jaman pra perang sipil di Amerika Serikat. Cerita dimulai ketika seorang saudagar kulit hitam kaya bernama Solomon Northup, yang memiliki keluarga bahagia di culik dan dijadikan budak. Kehidupannya berubah 180 derajat ketika dia dijadikan budak oleh para saudagar kulit putih di Amerika Serikat. Berbagai penyiksaan dan tekanan hidup dirasakannya bertahun tahun bersama para budak kulit hitam lainnya. Film yang ber genre drama ini benar-benar menguras emosi penonton, karena hampir seluruh alur ceritanya berisi penganiayaan dan penyiksaan terhadap budak kulit hitam. Mereka diperdagangkan seperi sebuah properti yang layak di perjual belikan kepada siapa saja yang sanggup membelinya. Bertahun tahun Solomon Northup menjadi budak, sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang pengawas pekerja berkulit putih, dan juga pejuang kemanusiaan yang bernama Bass (Brad Pitt). Disinilah jalan kebebasannya terbuka, ketika ia menceritakan kepada Bass bahwa ia sebenarnya adalah manusia bebas. Singkat cerita, ia pun terbebas dari perbudakan, dan menemukan kembali istri dan anak-anaknya yang terpisah selama bertahun-tahun.

Sumber: jateng.tribunnews.com
Cerita ini adalah kisah nyata yang disadur dari novel yang berjudul 12 years slave. Film 12 Years a Slave ini memiliki kemiripan dengan film Djanggo Unchained, dan The Butler, yang alur ceritanya mengenai perbudakan kulit hitam. Namun 12 Years a Slave dalam alur ceritanya benar-benar bertema satir dan penuh kesedihan, berbeda dengan Djanggo Unchained dan The Butler yang sedikit memiliki sentuhan humor. Film ini pun menyabet penghargaan piala oscar dari beberapa kategori seperti best Picture, best supporting actress, best adapted screen play. 

Apakah cerita diatas hanya terjadi pada masa lalu, dimana perbudakan masih dilegalkan?, apakah penganiayaan fisik yang diterima kaum lemah hanya terjadi di masa lampau?, ternyata jawabannya tidak. Lihat saja beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, buruh-buruh disekap dan mengalami penyiksaan fiisk dan psikis. Peristiwa dari mulai kasus buruh panci di tangerang, buruh pabrik di Medan, dan pembantu rumah tangga yang disekap baru baru ini telah menyadarkan kita bahwa perbudakan masih terjadi saat ini. Diera modern, dan hukum serta aparatur telah berdiri kokoh, namun ada sisi kelam diera gemerlapnya kemewahan dunia dan perkembangan pengetahuan dan budaya.

Lihat saja, bagaimana orang miskin tidak memiliki akses mendapatkan pendidikan tinggi dan terbaik. Sekolah-sekolah internasional hanya milik orang-orang berduit, beasiswa-beasiswa diberikan hanya sekedar penutup betapa banyaknya kaum miskin yang tidak bisa bersekolah.
Ingat, pendidikan lah yang akan membawa setiap orang meningkatkan taraf hidupnya. Tanpa pendidikan anak tukang becak tetaplah anak tukang becak, anak sopir angkot tetaplah anak supir angkot.
Nothing is change without education!.
Twelve Years a Slave masih sangat relevan dengan potret kehidupan modern saat ini.


Salam Hangat,



Wednesday, December 18, 2013

Desember 18

Tuhan, setiap hari aku berdoa untuk patuh dan melakukan apa yang Kau kehendaki, setiap hari pula aku gagal melakukan perintah Mu.
Rasa takut, dan khawatir membuatku hidup dalam kebimbangan dan kegamangan.
aku berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendakmu, tetapi gagal. Aku berusaha menjadi jujur, namun pada akhirnya aku menjadi pendusta.

Ketika berdoa, malaikat Tuhan dan Iblis ikut mendengar doaku.
Ketika berdoa, Malaikat Tuhan memberikan kelegaan dan kekuatan.
Pun setelah berdoa, iblis bekerja untuk menghancurkan segala doa doa ku yang didengarkannya bersama para malaikat.

Benar Tuhan, benih yang baik harus di tabur di ladang yang baik.
Benih adalah Firman Mu, dan ladang ialah hati kami.
Hati yang bimbang, hati yang takut adalah musuh kebaikan.

Tuhan, seribu kali iblis melawan aku, maka seratus ribu kali aku akan datang kepada Mu meminta kekuatan.
Percayalah Tuhan, aku tidak akan pernah berhenti berjuang menjadi garam dan terang dunia.

Iblis datang untuk menghancurkan dan membinasakan...
Tetapi Tuhan datang untuk menyelamatkan orang yang terhilang.

Sahabat datang dan pergi, sahabat seperti tiupan angin yang setiap saat kita rasakan hembusannya, dan lenyap seketika.
Tetapi Tuhan tetap disampingku.


Thursday, October 31, 2013

Don't Judge a Book From It's Cover

Jangan menilai sesuatu dari penampilannya saja, itulah kira-kira terjemahan dari judul tulisan ini. Pepatah tersebut benar-benar terbukti ketika saya sedang berada di sebuah toko sepatu di Pondok Labu. Seorang lelaki tua masuk ke toko dengan pakaian lusuh, berwarna hitam dan tanpa menggunakan alas kaki. Tanpa ada perasaan minder, dan penuh keyakinan lelaki tua itu memasuki toko bak seorang panglima perang. Lelaki tua itu sebenarnya ingin menukar sepatu yang telah di beli beberapa hari sebelumnya untuk anaknya yang duduk dikelas 2 SMK. Karena ukuran dan warna yang tidak sesuai dengan permintaan sang anak tersebut, maka sang kakek tua itu harus kembali ke toko untuk menukar sepatu itu. Namun sayang seribu sayang, karena jenis sepatu yang diinginkan sang anak harganya lebih mahal, sang pramuniaga mengatakan tidak bisa di ganti dengan speck dan harga yang berbeda. "Kalau mau bapak beli satu lagi" begitulah kalimat dari sang pramuniaga tersebut. Tanpa pikir panjang, pak tua tersebut langsung menuju lorong sepatu yang diinginkannya dan menunjuk dengan penuh keyakinan, "itu yang saya mau, sepatu warna hitam dengan tali!"begitulah kira-kira kalimatnya. Lalu ia membawa dua pasang sepatu yang ia beli dengan rasa bangga, sebelum pergi bapak tersebut menyalami semua pramuniaga yang ada disitu, termasuk menyalami saya juga. Kocak dan membuat kita tersenyum pada saat itu. Diam-diam saya mengabadikan moment langka tersebut dan memfoto pak tua itu.

Sang kakek yang sedang bingung memilih sepatu untuk anaknya.

Saya terenyuh dan simpati dengan bapak tua itu, demi keinginan anaknya ia rela merogoh kocek yang tidak sedikit. Saya tidak iba dengan bapak tua tersebut, karena ia bukanlah orang miskin, ia orang yang "kaya" demi anaknya yang membutuhkan sepatu. 

Wajah lusuh, pakaian lusuh, dan tanpa alas kaki memasuki toko, siapa sangka ia membeli dua pasang sepatu demi sang anak. Orang yang "kelihatannya miskin" tetapi berhati mulia dan "kaya". 
Coba lihat di dalam gedung-gedung pencakar langit, orang-orang dengan pakaian berdasi, dan wangi parfum semerbak diseluruh tubuhnya. Orang-orang yang berpendidikan tinggi dan memiliki kedudukan tinggi tega mengambil hak orang lain, tega menindas orang kecil dengan melakukan korupsi dan dan tidak terpuji yang merugikan orang lain.

Saya belajar dari sang kakek tua tersebut beberapa hal:
1. Menilai orang bukanlah menilai dari luar nya saja, bahasa kerennya don't judge a book from it's cover.
2. Apapun yang kita miliki berbanggalah! pak tua tersebut berpakaian lusuh, tanpa alas kaki, tapi wajahnya tegak berdiri tanpa rasa minder sedikitpun.
3. Belajar bukan hanya dari buku-buku tebal di bangku kuliah, dan dari profesor -profesor saja, tetapi sering kali Tuhan memberikan kita ilmu dan pelajaran dari orang yang pendidikannya lebih rendah dari kita, dan orang kecil yang dikucilkan dunia ini, sebuah pelajaran dari Tuhan untuk kita yang merasa hebat.
4. Siapapun kita, belajarlah dari semua orang!

Sekian dan terima kasih.

Salam musim hujan!

Sunday, October 13, 2013

Malala Yousafzai, a little teacher

Malala Yousafzai (www.canadian progressiveworld.com)


Nama Malala menjadi nama yang sangat populer saat ini yang menghiasi berbagai media masa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Malala dijadikan simbol perlawanan terhadap penindasan hak dan martabat kaum wanita, terutama hak mendapatkan pendidikan. Perjuangan dan tulisan-tulisannya membuat gerah pihak Taliban yang tidak suka dengan aktivitas Malala, puncaknya dia di tembak di bagian kepala saat menaiki sebuah bis di Pakistan. Nyawanya pun dapat diselamatkan setelah mendapatkan perawatan intensif di Inggris, kini Malala telah pulih dan siap melanjutkan perjuangannya untuk membela kaumnnya mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan. Respon positif dari warga dunia, membuat Malala mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi seperti Sakharov Prize, penghargaan tertinggi di bidang hak asasi manusia dan kebebasan berpikir dari Uni Eropa, ia juga menerima Reach All Women in War (RAW), Anna Politkovskaya Award 2013, hadiah perdamaian anak internasional, The Oklahoma City Memorial and Museum di AS, dan berbagai penghargaan lainnya yang ia terima (kompas.com).

Melihat perjuangan wanita cilik berumur 16 tahun ini, saya begitu terkesan dan begitu tidak percaya ketika membaca riwayat Malala dan perjuangannya yang sangat luar biasa di sebuah negara Pakistan yang masih dilanda perang saudara antar pihak pemerintah dan opisisi, bahkan antar ras. Tidak bermaksud untuk melebih-lebihkan alias hiperbola, saya  merasa malu sendiri dan menjadi refleksi buat diri sendiri yang sampai detik ini belum melakukan sesuatu yang berarti bahkan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Indonesia juga memiliki pejuang wanita yang hebat seperti R.A. Kartini, seorang wanita berpendidikan dan putri seorang bangsawan yang mendobrak mitos dan budaya patrenalisme Jawa pada masa itu, yang melarang wanita untuk bersekolah dan memiliki hak yang sama dengan pria. Perjuangan ditengah keterbatasannya tidak membuatnya ciut bahkan menjadi pemicu untuk terus berjuang dan berkarya. Kini, perjuangan sang Kartini pun sudah dinikmati jutaan kaum wanita dinegeri ini, dan tetap menjadi sebuah simbol pergerakan perjuangan kesetaraaan wanita dan pria.

Malala Yousafzai dan R.A.Kartini adalah dua wanita yang bergerak menembus batas tantangan, hambatan, yang hanya bermodalkan ide dan niat baik, serta kerelaan berkorban untuk sebuah tujuan mulia yaitu membebaskan kaumnya dari belenggu perbudakan primordial.

Cerita diatas merupakan refleksi buat saya, dan mungkin kita semua untuk berjuang melawan segala tantangan yang menghambat kita untuk maju. Keterbatasan bukanlah sebuah alasan untuk melangkah kedepan. Malala bukanlah wanita super yang kuliah di Harvard Business School, bukan pula wanita yang dilatih oleh pasukan khusus untuk mempertahankan diri dari serangan kaum milisi, tetapi ia memulai tujuan besarnya dengan langkah kecil, yaitu mengajar...

Salam.











Friday, October 4, 2013

Plak....! Lalu Ku Tampar.

Itulah yang terjadi ketika seorang wartawan bertanya kepada Akil Mochtar, seorang tersangka kasus korupsi dan seorang Ketua Mahkama Konstitusi (MK). Pertanyaan wartawan yang membuat Pak Akil marah besar yakni "Apakah Bapak siap untuk potong jari jika bapak terbukti bersalah"? (kompas.com), alih-alih mendapatkan jawaban, wartawan tersebut justru mendapatkan cap lima jari alias tamparan dari Pak Akil, Plak....!begitu kira-kira bunyinya jika dibayangkan. Sebagai informasi, ketika menjadi juru bicara MK, Akil Mochtar pernah mengusulkan pemiskinan koruptor dan juga potong jari koruptor jika bersalah.
Akil Mochtar tampar wartawan (detik.com)
Sebagai orang Indonesia, saya sudah tidak kaget lagi dengan berita pejabat negara ditangkap KPK karena korupsi, basi cuy...! tiap hari kaleeee hehehe. Ya itulah cerminan negeri yang saat ini sedang berusaha menata kehidupannya dengan perbaikan di berbagai sektor. Disaat sebagian kecil pejabat yang masih jujur berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini, ada sebagian besar pejabat yang justru melakukan perusakan dari dalam, seperti korupsi yang sedang menjamur di negeri ini.
Disaat sebagian besar warga Miskin Indonesia berjuang untuk makan, minum, dan menyekolahkan anak-anaknya, malah ada pejabat yang tega melakukan korupsi untuk memperkaya diri sendiri.

Ketika saya mendapat pelatihan sales staff di beberapa mall di Jakarta, saya sering melihat orang tua yang membeli sepatu anak-anaknya dengan biaya bantuan pemerintah atau KJP (kalau tidak salah kartu jaminan pendidikan). Miris juga y, melihat orang tua untuk membeli sepatu anaknya saja yang paling mahal harganya Rp.200.000, harus pakai KJP. Bagaimana dengan pejabat yang tidak pernah bersinggungan dengan KJP? yang bisa menyekolahkan  anak-anaknya keluar negeri, yang tentu saja beli sepatu anaknya tidak pakai KJP.

Saya sangat yakin bahwa siapapun kita, sebagai manusia ciptaan Tuhan, tidak akan luput dari hukuman Tuhan, gak ada obatnya, jika hukuman Tuhan sudah murka. Ironis sekali melihat pejabat yang tadinya jadi penghukum orang bersalah, malah jadi orang yang dihukum.

Sebuah ironi, dan simbol dari sebuah jaman yang mengalami dekadensi moral ditengah peradaban manusia yang berkembang pesat.

Salam.


Friday, September 27, 2013

Picture Tell More Than Words.


Recently i like to write anything in my blog; my personal experience, like what i see, what i do, what i feel, anything!. Every moment has different impression and story, some times i see the moment that i want to write and also take the picture. I feel the special moment not only can be written, but also can be told by give the picture, because people say picture tell more than word.

That's why, next time i want to write some of my stories consist of words and also pictures, and learn some technique of photography.


Sunday, September 15, 2013

In Life We Need Consistency !

Seorang juara dunia tinju seperti Mani Pacqiao tidak sekonyong-konyong menjadi juara dunia. Ia mulai dengan latihan ringan hingga berat, dengan bertanding di kelas kampung hingga kelas dunia. Seorang pesepak bola hebat seperti David Backham, berlatih sepak bola dari masa kanak-kanak. Sebelum tidur ia selalu melatih menendang bola sehingga terlatih hingga dewasa.

Saya teringat ketika saya di interview oleh seorang country manager di perusahaan saya bekerja saat ini, beliau mengatakan "Victor, in life we need consistency".
Untuk menjadi konsisten tidak mudah, butuh kekuatan, ketabahan, dan kerelaan, ya kerelaan untuk tetap konsisten berlatih menjadi lebih baik, konsisten dijalan yang kita anggap benar walaupun kita berjalan sendiri.

Kunci dari kesuksesan adalah konsistensi, apapun yang kita jalani tanpa konsistensi, hasilnya akan setengah-setengah, dan sia-sia belaka.

Untuk sukses kita butuh konsistensi, konsistensi untuk berjuang menggapai cita-cita.

Salam.




Friday, September 6, 2013

Pelajaran dari film Killing Season

Killing Season adalah sebuah film action yang mengisahkan dendam seorang mantan tentara serbia terhadap mantan tentara NATO yang pernah bertugas di serbia. Film ini menyoroti dua figur utama yakni Benjamin Ford, sebagai pensiunan tentara NATO yang diperankan oleh Robert de Niro, dan juga Emil Kovac, diperankan oleh JondraVolta yang adalah seorang mantan tentara Serbia. Film ini mengisahkan dendam kesumat Emil Kovac, yang melihat teman-temannya dibunuh oleh tentara NATO pada masa lalu. Emil Kovac sendiri selamat dari eksekusi tentara NATO karena sang tentara tidak menembak Emil Kovac yang pada waktu itu akan ditembak mati, adalah Benjamin Ford sendiri yang tidak menembakkan senjatanya ke kepala Emil Kovac.

Delapan belas tahun berlalu, Emil Kovac pun akhirnya menemukan sang veteran tentara NATO yang mengeksekusi tentara Serbia. Alur cerita yang cukup menarik, karena antara Benjamin dan Emil Kovac silih berganti untuk membunuh satu sama lain, namun tidak pernah berhasil. Usaha untuk saling membunuh terjadi disebuah pegunungan Appalachian, tempat Benjamin Ford menghabiskan masa tuanya untuk melupakan masa lalunya di medan perang sebagai seorang prajurit.

Hingga pada satu titik, Benjamin Ford berhasil menaklukkan sang mantan tentara Serbia yang tidak berdaya. Situasi sama ketika Emil Kovac tersungkur dengan tangan terikat yang siap dieksekusi pada saat perang Serbia dahulu. Akhirnya Benjamin Ford tidak membunuh Emil Kovac dan singkat kata terjadi perdamaian.

Begitulah kekuatan dari memaafkan, ketika salah satu pihak berani mengambil keputusan untuk memaafkan dengan mengorbankan ego dan perasaannya. Kita sering mendengar kata forgive but not forget, dua kata yang bertentangan satu sama lain. Ketika memaafkan seseorang, maka secara pribadi kita seharusnya telah melupakan segala kesalahan orang tersebut.
Sejarah dunia ini adalah sejarah peperangan, hingga saat ini, orang saling membunuh dan membantai. Suriah, Mesir, Nigeria dll adalah contoh dari begitu mengerikannya peperangan, yang dilakukan antara saudara, bahkan di Indonesia pun memilik sejarah kelam peperangan antar anak negri.
Kapan perang akan berhenti? sampai ada yang berani mengambil keputusan forgive and forget, and let's live together in the world that God has give to us for every one.

Salam Damai!

Sunday, August 25, 2013

Polisi Berpakaian Preman


Sering kali kita mendengar kalimat polisi berpakaian preman, dan istilah itu merujuk pada seorang polisi yang sedang menyaru menjadi warga sipil biasa yang sedang melakukan pengintaian atau istilah lainnya intelijen/intel. Mengapa kata-kata preman tidak kita ganti dengan istilah misalnya polisi berpakaian sipil atau polisi berpakaian kaos oblong, dan itu lebih relevan menurut saya. Karena preman memiliki konotasi negatif sebagai pemeras atau yang suka menggunakan cara kekerasan. Apakah karena preman di negeri ini memiliki posisi yang terhormat? atau memang kita terbiasa hidup dengan preman atau bahkan kita sendiri memiliki kebiasaan preman yang suka memeras, dan melakukan kekerasan? tentu tidak bukan.

Saya khawatir suatu saat para preman di jakarta marah karena namanya sering disalahgunakan dan dipakai tanpa seizin mereka, dan mereka marah dan ganti memakai nama polisi menjadi "preman berpakaian polisi". Kalau ini terjadi, maka ini sangat berbahaya, karena preman berpakaian polisi lebih berbahaya dari pada polisi berpakaian preman. Semoga tidak terjadi di negeri kita.

Saya Victor Marbun,

Salam!

Sunday, July 7, 2013

Pers Dahulu dan Sekarang


Sumber: Google Image

Pers sebagai sebuah media pada dasarnya berfungsi sebagai alat penerangan atau informasi kepada masyarakat tanpa berpihak atau menutup-nutupi informasi yang di dapat. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pers dengan media seperti surat kabar yang berfungsi sebagai alat perjuangan kaum intelektual untuk mengobarkan semangat kemerdekaan kepada masyarakat luas. Pers digunakan sebagai penyambung lidah rakyat untuk menyampaikan kritik dan ide kemerdekaan yang di tujukan kepada pemerintah Belanda. Tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Moh.Hatta, H. Agus Salim, dll yang menjadi motor pergerakan kemerdekaan kala itu, sering menulis ide-ide perjuangan mereka pada surat kabar resmi kala itu. Akibat dari tulisan-tulisan mereka yang dianggap menghasut, mereka menjadi sasaran pemerintah Belanda dan terpaksa di asingkan ke pulau terpencil agar tidak membuat tulisan yang menghasut atau propoganda yang dapat membahayakan keberadaan kaum penjajah Belanda.
Dengan kata lain, media saat itu dijadikan sebagai alat propoganda dan alat perjuangan untuk menggerakkan massa dan menyadarkan bangsa agar tidak menjadi bangsa terjajah. Fungsi pers saat itu adalah sebagai penyambung lidah rakyat dan alat perjuangan yang bertujuan sangat mulia untuk melepaskan diri dari kebodohan dan belenggu penindasan penguasa.

Bagaimana dengan fungsi pers saat ini? Pers telah menjadi sebuah industri yang menggiurkan dan menguntungkan bagi pemilik modal. Lihat saja, beberapa stasiun TV dan media cetak telah dikuasai oleh beberapa pemilik modal dan membentuk sebuah kartel berita. Bahkan, satu pemilik modal bisa memiliki beberapa stasiun TV nasional.
Bagi mereka, media sudah menjadi industri yang menguntungkan bukan hanya sebagai alat untuk mendulang keuntungan, tetapi juga sebagai alat untuk menyebarkan pengaruh atau membentuk opini publik.

Tidak percaya? lihat beberapa dari pemilik modal TV tersebut yang membuat semacam opini publik dengan membuat pidato-pidato agar mempengaruhi masyarakat luas untuk membentuk citra positif mereka. Tujuannya jelas untuk menuju kursi kekuasaan, karena sebagian dari mereka menjadi calon presiden di pemilu yang akan datang. Pers yang seharusnya jujur dan lugas tanpa memihak, justru dijadikan alat politik oleh sang pemilik modal. Yang terjadi sekarang adalah perang media di mana-mana, wajah-wajah sang pemilik modal menjadi artis dadakan, dan masyarakat dipaksa untuk menyaksikan wajah-wajah tersebut, sungguh membosankan dan menjemukan. Bukankah lebih baik menyaksikan Julia peres atau artis seksi di TV dari pada pidato mereka yang menjemukan itu.

Itulah perbedaan pers jaman kolonial Belanda dan saat ini, tanpa mengecilkan insan pers termasuk wartawan yang memiliki dedikasi tinggi untuk menyajikan berita yang berkualitas. Kehadiran pemilik modal yang menggunakan media sebagai alat politik untuk kepentingan pribadi sungguh berbahaya. Berbeda dengan pers jaman perjuangan dahulu, yakni bertujuan untuk kepentingan rakyat banyak agar lepas dari belenggu penjajahan, dan bukan untuk tujuan pribadi atau golongan tertentu.

Selamat menyaksikan perang pemilik modal di TV, selamat meyaksikan kampanye-kampanye yang hambar demi 2014.

Salam pemilu 2014.



Monday, July 1, 2013

Perjuangan Hidup Sang Pramuniaga

Training pramuniaga di toko sepatu BATA

Saya bekerja sebagai Management Trainee di sebuah perusahaan retail salah satu perusahaan asing asal Swiss. Pada suatu hari saya ditempatkan di salah satu shoe store yang terletak di sebuah mall di Cilandak, Jakarta selatan. Di toko tersebut ada lima orang karyawan, dan satu orang retail dealer atau yang biasa disebut store manager.
ketika saya ditugaskan selama tiga hari di toko tersebut, beberapa pramuniaga mengungkapkan isi hati nya kepada saya, atau curhat-curhatan. Pramu niaga tersebut mengatakan bahwa perlakuan dari sang store manager kurang mengenakkan terhadap para pramuniaga. Beberapa contoh nya adalah beban kerja yang berlebihan namun tidak diberikan insentif yang layak. Secara struktural memang para pramuniaga tidak masuk dalam jajaran karyawan tempat saya bekerja, namun para pramuniaga tersebut langsung di rekrut oleh sang retail dealer tersebut. Semua gaji, dan fasilitas yang menjadi hak pramuniaga menjadi tanggung jawab sang retail dealer dan bukan perusahaan tempat saya bekerja.

Selama tiga hari saya berada di tempat tersebut, saya turut merasakan bagaimana sulitnya menjadi pramuniaga. Mulai dari beban kerja yang panjang, yakni masuk pukul 10.00 pagi hingga pukul 10.00 malam. Mereka harus bersikap ramah, dan help full terhadap customer yang datang. Rasa bosan yang saya rasakan karena harus berdiri di toko selama berjam -jam membuat saya merasakan beban mereka. Ya, mereka berjuang untuk keluarga, dan diri sendiri.
Rata-Rata mereka berusia 20-25 tahun, hanya satu orang yang sudah berkeluarga berusia sekitar 35 tahun.

Berada di toko selama tiga hari, membuat saya merasakan perjuangan mereka, dan betapa gigihnya mereka berjuang untuk keluarga mereka. Sejak saat itu saya mulai bersikap untuk tidak sekali-sekali meremehkan pekerjaan mereka sebagai pramu niaga.
Mereka pun berharap kepada saya untuk membuat laporan ke pihak management tentang keadaan ini. Saya pun berusaha membuat mereka sedikit lega, dengan sedikit memberikan nasehat dan menjanjikan akan memberikan feed back terhadap kondisi mereka ke pihak management.
Hidup memang keras, dan ada rasa syukur di hati saya karena saya tidak bernasip seperti mereka, sekaligus sedih karena perjuangan mereka yang begitu luar biasa.
Semoga kita tidak mengangkap remeh setiap profesi, dan selalu menghargai profesi apapun, karena manusia tidak diukur dari tingginya jabatan, tingginya gelar atau pangkat, melainkan seberapa besar kita berguna bagi orang lain.
Bravo pramuniaga!

Salam.

Saturday, June 22, 2013

Diskusi Bersama Mr. Carbahal


Pagi ini tepat pukul 7.30 WIB, saya sudah berada di hotel Le Meredian, Jakarta. Agenda acara hari ini adalah berdiskusi masalah bisnis dengan Mr.Carbahal, CEO Bata Shoes Organization asal Peru. Perawakannya cukup besar, ramah, dan memiliki business mind set yang bisa dibilang taktis. Kami memulai memperkenalkan diri kepada beliau dan sekaligus menjelaskan program kami masing-masing yang bisa di buat. Satu persatu dari kami menjelaskan, suasana agak tegang pada saat pertama kali, namun beliau bisa menjadi ice breaking, ketika mengatakan jangan terlalu tegang dan formal. Biasa saja, karena ini hanya bincang-bincang di hari sabtu, "lihat saya, hanya mengenakan baju lengan pendek" begitu kira-kira kata beliau. Suasana pun menjadi cair, dan kami bisa menjelaskan program kami dengan baik. Saya pribadi merasa puas dengan gaya bicara saya ketika tiba giliran saya bicara, dan tidak terlalu grogi pada saat bicara. Beliau pun cukup antusias mendengar celoteh saya.


Namun, diskusi hanyalah diskusi, peperangan sebenarnya adalah bagaimana menjalankan apa yang telah didiskusikan dengan sempurna, sehingga strategi dapat berjalan dengan baik. Ada kata-kata yang cukup menarik yang saya ingat ketika salah satu tim dari CEO bicara, lebih baik bad strategi, good execution, dari pada Good strategy, bad execution. Artinya action lebih penting dari pada planning yang muluk-muluk. Good point!
Saya juga yakin, peperangan sesungguhnya bukanlah pada saat diskusi yang memukau dan dapat tepuk tangan, tapi peperangan sesungguhnya pada saat kita bekerja sama dengan orang lain, melakukan eksekusi planning, dan bagaimana interaksi kita dengan orang lain. Itulah perjuangan yang sesungguhnya. Semoga saya bisa melalui nya, dan mari kita berjuang!

Salam akhir pekan.


*ditulis disebuah kost-kostan sederhana di Kuningan (HR.Rasuna Said)

Sunday, June 16, 2013

Semut-Semut Yang Rakus

Pagi ini, saya melihat segerombolan semut mati di dalam cangkir yang berisi sedikit teh manis sisa kemarin. Semut-semut tersebut mati karena mencoba meminum habis sisa teh manis yang ada di gelas. Seandainya semut-semut tersebut hanya meminum secukupnya sisa teh manis tersebut dan berbagi dengan yang lain, maka mungkin semut-semut tersebut tidak akan tenggelam dan mati di dalam sisa teh manis itu.


Dalam hidup memang kita selalu ingin mendapatkan segala sesuatu sebanyak-banyaknya, tidak perduli bagaimana cara dan kerasnya mendapatkannya. Bahkan terkadang, bagian orang lain pun kalo bisa kita embat juga. Itulah naluri manusia, bahkan saya pun juga mungkin sering melakukan hal itu. 
Kita melihat beberapa hari atau bulan ini, banyak sekali para pembesar yang masuk penjara akibat ketamakan nya memperoleh harta. Akibatnya, masa muda di pakai untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, bahkan hak orang pun di sikat juga, dan masa tua nya dihabiskan di balik jeruji besi. Tuhan memang adil, barangkali itu adalah contoh yang Tuhan berikan, bahwa, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari kebaikan-kebaikan yang kita berikan untuk orang lain. Jika kita mempunyai makna bagi orang lain, atau berguna, ya, itulah hidup yang sesungguhnya, bukan hanya dari makan dan minum saja.

Pelajaran dari para semut yang mati di segelas teh mengingatkan kita, bahwa sebaiknya jauhkan diri kita dari ketamakan, dan mari berbagi dengan orang lain. Maka kita akan memiliki makna hidup sesungguhnya.

Salam.