Tuesday, March 17, 2015

Panggilan dan Pilihan

Istilah panggilan atau dalam bahasa Inggris disebut calling, sering dihubungkan dalam dunia pekerjaan atau profesi. Orang yang memiliki panggilan biasanya memiliki passion atau hasrat atau keinginan yang kuat untuk bekerja, dan bekerja secara tulus dan ikhlas tanpa berpikir apa yang akan saya dapat dari pekerjaan ini. Bagi seseorang yang memiliki panggilan, biasanya akan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kebaikan orang banyak. Beberapa profesi yang sering sekali dihubungkan dengan kata panggilan adalah guru, pemuka agama, pekerja sosial dll, karena pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak begitu bergengsi dan biasanya pendapatannya pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan pekerjaan mereka yang begitu mulia. Dalam kamus bahasa Inggris online Oxford, calling di definisikan sebagai "a strong urge towards a particular way of life or career; a vocation: does who have a special calling to minister to others' need. Dari definisi diatas jelaslah bahwa seseorang yang memiliki panggilan dalam pekerjaannya lebih menitikberatkan pada kebutuhan orang lain (others' need). 


Setelah mengenal istilah panggilan, mari kita sama-sama mencari tahu apa makna pilihan. Pilihan sering kali dikaitkan dengan dua hal, biasanya kita membandingkan satu sama lain dan mencari yang terbaik diantara keduanya. Jika kita menghubungkan istilah pilihan dengan dunia pekerjaan, maka kecendrungannya adalah kita akan membandingkan dan mencari yang terbaik diantara dua hal yang di perbandingkan tersebut. Secara kamus, pilihan didefinisikan sebagai "an act of choosing between two or more posibilities: the choice between good and evil". Dari definisi itu jelaslah bahwa pilihan adalah mengenai membandingkan antara yang baik dan yang tidak baik/jahat (the choice between good and evil). Berikut adalah ilustrasi cerita untuk membedakan apa itu panggilan (calling) dan pilihan (choice).


Bang Togar adalah supir metro mini jurusan Blok M Danau Toba, Beliau sudah bekerja sebagai supir selama 10 tahun, soal mengemudi jangan ragukan kemampuan bang Togar, beda-beda tipis dengan Michael Shumacher atau Fellipe Massa pembala Formula One. Pada suatu ketika ketika dalam perjalanan dari Blok M menuju Danau Toba, ia bertemu dengan seorang direktur BUMN di Medan, sebut saja namanya Poltak. Singkat cerita Poltak menawari si Togar untuk bekerja sebagai kepala keamanan di perusahaan sang direktur tersebut, karena Poltak melihat Togar memiliki perawakan yang besar dan wajahnya yang lumayan sangar. Tanpa pikir panjang lalu Togar menerima tawaran sang direktur tersebut karena gajinya yang jauh lebih besar ketimbang menjadi supir yang cukup melelahkan, apalagi jaraknya yang lumayan jauh dari Blok M ke Danau Toba. Keputusan yang diambil Togar adalah keputusan berdasarkan pilihan mana yang lebih baik, beliau membandingkan untung rugi jika memilih menjadi kepala keamanan atau tetap menjadi supir metro mini - Inilah yang namanya pilihan.

Lain lagi dengan mbak Tukiyem, Tukiyem adalah seorang penjual jamu gendong yang biasa mangkal di pangkalan ojek di deket gang Buntu. Langganan Tukiyem adalah para tukang ojek yang biasa mangkal di gang buntu. Suatu ketika mampirlah seorang manager pabrik lampu petromak yang kebetulan lewat Gang buntu untuk naik ojek karena mobilnya sedang mogok. Manager pabrik ini sebut saja namanya Joni, tanpa disengaja Joni bertemu dengan Tukiyem dan akhirnya Joni pun membeli jamu nya Tukiyem. Diem-diem Joni sang manager pabrik lampu petromak ini tertarik dengan Tukiyem karena wajah Tukiyem lumayan manis serta badannya yang cukup semok. Lalu Joni pun menawari Tukiyem untuk alih profesi sebagai sekretaris Joni, sambil modus juga si Joni ini. Lalu Tukiyem dengan cepat menolak tawaran Si Joni ini dan berkata " Maaf pak, saya lebih suka jadi penjual jamu disini" Joni pun kaget karena baru kali ini ada yang menolak ditawari sebagai sekretaris manager pabrik lampu petromak, lalu Joni bertanya "Kenapa gak mau Yem?" Tukiyem berkata " Iya Jon, dengan menjual jamu ke Tukang Ojek saya berharap mereka ngojek nya tambah semangat dan akhirnya mereka bisa menafkahi keluarga mereka, jadi pahalanya akan besar dibandingkan jadi sekretaris bapak di perusahaan lampu petromak"- Keputusan Mbak Tukiyem adalah panggilan (calling), dimana ia lebih mempertimbangkan manfaat untuk orang lain dari pada mendapatkan materi semata.


Gambar: Kompas.com

Jika kita hubungkan dengan kehidupan kita sehari-hari terutama di dunia pekerjaan, bekerja karena sebuah panggilan adalah jauh lebih baik dari pada karena pilihan. Kalau kita bekerja karena panggilan, apapun tantangan dan kesulitannya akan dihadapi dengan ikhlas dan hasilnya pun lebih maksimal. Mengapa? karena mereka bekerja dengan niat baik dari hati, dan mereka tidak akan mudah stress jika masalah datang.

Salam.




Wednesday, March 11, 2015

Langkah














Aku melangkah dengan mantap
Menyusuri setiap jalan yang gelap
Kadang hati merasa gagap
Melihat keadaan yang terlihat senyap

Tidak ada waktu untuk berhenti berjalan
Tidak ada waktu untuk menyesali keadaan
Teruslah berjalan teruslah melangkah
Walau hati berselimut sunyi dan senyap

Aku melangkah karena janjiMu dalam kitab
Aku melangkah karena penantianMu di ujung jalan
Aku pastikan langkah kakiku ke garis depan
Untuk sebuah piala yang Engkau sediakan bagi pemenang





Tuesday, February 3, 2015

American Sniper, Patriotisme dan Kemanusiaan

Baru saja saya menyaksikan sebuah film yang berjudul American Sniper, sebuah film yang diangkat dari sebuah kisah nyata seorang sniper yang dikirim ke Irak. Film ini sangat menarik menurut saya, karena ceritanya mengandung banyak pesan-pesan positif, seperti nilai-nilai patriotisme, kemanusiaan, kesetiakawanan, dan juga pengorbanan.

Chris Kyle, seorang pemuda yang terpanggil menjadi tentara angkatan laut Amerika, di kesatuan elit Navy Seal sebagai seorang sniper. Kisahnya dimulai ketika ia menyaksikan pemboman Kedutaan Besar Amerika di Nairobi, kenya pada tahun 1998, dari sini ia terpanggil untuk membantu negaranya memberantas teroris. Puncaknya ketika terjadi serangan 11 September 2001 di menara kembar WTC di Amerika Serikat.
sumber: Wikipedia.org

Setelah dilatih, Chris Kyle kemudian dikirim ke Irak untuk membantu negaranya mencari orang-orang yang dianggap bertanggung jawab terhadap serang 11 September tersebut. Chris Kyle adalah sniper paling mematikan dalam sejarah militer Amerika, karena banyaknya korban yang ia bunuh pada saat bertugas di Irak. Berbagai pertempuran pun ia lewati, dan banyak rekan sesama anggota militer yang berhasil ia selamatkan dalam pertempuran di Irak.

Buat saya cerita ini menarik, karena Chris Kyle yang diperankan oleh Bradley Cooper terpanggil untuk menjadi tentara melihat banyaknya tentara dan orang Amerika yang menjadi korban terorisme. Bahkan ia rela meninggalkan istri dan anaknya yang masih kecil untuk berperang ke daerah perang di Irak. Sebuah tindakan yang mengorbankan kehidupan pribadinya demi membantu negaranya. Banyak aksi-aksi heroik yang dilakukan oleh Chris Kyle, ada satu cerita yang memperlihatkan ia dengan cekatan membantu tim nya yang sedang di serang oleh teroris. Tindakan yang sebenarnya bukan jobdesk nya, tapi ia lakukan demi membantu rekan sesama timnya. Dalam misinya, Chris Kyle akhirnya berhasil menuntaskan misinya di Irak, dan berhasil membunuh seorang sniper disebut sebagai Mustafa yang banyak membunuh rekan timnya sesama anggota Navy Seal. Sayangnya Chris Kyle tewas dibunuh oleh anggota veteran perang Amerika, sebuah kisah yang menurut saya antiklimaks. Tidak seperti film-film heroik yang biasanya, tokoh utama dalam film American Sniper ini pada akhirnya tewas dan ini merupakan kisah sesungguhnya dari wafat nya Almarhum Chris Kyle.

Ada nilai-nilai yang patut ditiru di dalam film ini menurut saya, diantaranya bagaimana sebuah pekerjaan jika dilakukan dengan keinginan yang baik, saya lebih senang menyebutnya panggilan, maka hasilnya pun akan baik pula. Kisah ini tidak berfokus pada ending story yang menyenangkan, namun pada proses, dimana Chris Kyle begitu berniat untuk bekerja semaksimal mungkin membantu negaranya dalam peperangan di Irak, serta andil nya yang sangat besar untuk timnya. Nilai lainnya adalah pengorbanan, dimana ia rela meninggalkan keluarganya demi membantu negaranya.

Dalam kehidupan nyata, bila kita bekerja secara ikhlas dengan niat yang baik, maka hasilnya pun akan baik pula. Ada kalimat menarik dalam percakapan film ini, yakni ketahuilah siapa anda, supaya anda tahu untuk apa anda dilahirkan. Sangat inspiratif menurut saya.

Salam.


Monday, January 19, 2015

Dari Apartemen, Kembali ke Kost2an..


Tidak terbayangkan bagi saya memiliki pengalaman untuk tinggal di apartemen mewah di Jakarta, ya itulah yang saya alami ketika saya tinggal di apartemen milik teman saya di pusat kota Jakarta -Rasuna Said. Ceritanya begini, ketika itu saya ingin mencari kost2an yang dekat tempat saya bekerja di daerah kuningan Barat. Cari punya cari, ternyata gak dapet-dapet kost2an yang cocok baik dari segi kantong, maupun kenyamanan. Sekalinya dapet yang cocok, atapnya bocor pula..akhirnya batal ngekost di tempat itu. 

Entah mengapa setiap nyari kost2an, yang punya selalu bilang "lagi gak ada yang kosong..." apa mungkin tampang saya tampang bakal nunggak kos2an, sehingga mereka pada bilang begitu..hanya Tuhan yang tahu. Pastinya semua gang, jalan sempit, lorong-lorong kecil sudah saya telusuri tetapi hasilnya nihil. Mungkin seperti Pak Jokowi blusukan, hanya saja saya gak sampai ke gorong-gorong untuk mencari kost-kostan. 

Memang benar pepatah yang mengatakan, kalau kita berusaha pasti ada jalan. Di saat hampir putus asa dalam mencari kost-kostan, tiba-tiba teman saya menawarkan apartemen ke saya dengan syarat dan ketentuan berlaku -mirip iklan yang ada jebakan Batman nya-, syarat nya adalah harus siap pindah ketika ada yang ingin menyewa apartemen itu. Maklum saya hanya membayar seharga kost-kostan, dengan kualitas apartemen yang mewah.

Akhirnya saya Deal dengan teman saya, saya pun begitu gembira karena bisa merasakan tinggal di apartemen dengan harga kost-kostan walaupun terbayang syarat dan ketentuan berlaku nya yang mengerikan itu. Saya pun tinggal di apartemen tersebut hampir sekitar 6 bulan. Memang enak tinggal di apartemen, setiap turun ke bawah, satpam selalu hormat, dengan mengatakan "selamat pagi/malam pak". Saya bak bos besar yang punya apartemen mewah, yang selalu di hormati pada saat keluar dan masuk apartemen.

Singkat cerita, hari yang ditakuti itu pun datang juga. Teman saya mengatakan bahwa akan ada penyewa baru yang akan menghuni apartemen tersebut, mendengar kata-katanya itu saya bak disambar petir di siang bolong.  Saya pun pura-pura menjawab santai saja, dan berpura pura tidak kecewa dan mengatakan "Ok, gak masalah, memang pada akhirnya pasti ada yang menyewa kan", padahal dalam hati saya berkata, "kampret, keluar juga gw dari tempat yang enak ini.."

Akhirnya saya pun kembali ke habitat semula, yaitu kost-kostan berukuran 3X4 meter yang tidak begitu jauh dari kantor tempat saya bekerja. Hari pertama tinggal di kost-kostan, saya meriang, mencret, dan sakit kepala. Maklum saja, tadinya yang tinggal di apartemen, tiba-tiba tinggal di kost-kostan sempit..Sakitnya Tuh Disini..."
Hari demi hari saya pun berjuang untuk menyesuaikan diri di kost-kostan tersebut, Akhirnya sekitar seminggu saya baru bisa menerima keadaan yang memilukan ini, seraya berkata dalam hati" mudah-mudahan saya bisa punya apartemen suatu saat nanti..Aminnnn....!
Sesudah tinggal dua bulan di kost-kostan, akhirnya saya baru benar-benar bisa tinggal dengan nyaman di kost-kostan ini, dan mendapatkan hikmah dari peristiwa ini, yakni yang penting adalah bukan seberapa besar tempat tinggal yang kita huni, tetapi seberapa nyaman tempat tinggal itu..*seraya mengelus dada dan mencoba menerima keadaan ini.

Sekian cerita saya, semoga bermanfaat.

Salam,




Tuesday, December 2, 2014

Indonesia Investment Conference 2014

Pada tanggal 26 November 2014, saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri seminar kelas dunia yang di hadiri berbagai delegasi dari berbagai negara. Acara in sedianya dihadiri oleh presiden jokowi, dan juga beberapa mentri nya. Namun sayang, presiden yang saya tunggu-tunggu batal datang, untungnya beberapa menteri Presiden Jokowi hadir sehingga cukup mengobati kekecewaan saya saat itu. Beberapa menteri yang hadir diantaranya, Menko Perekonomian, Bapak Sofyan Djalil, Mentri Keuangan, Bapak Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, serta Gubernur Bank Indonesia, Bapak Agus Martowardojo. Masih banyak pembicara lainnya yang cukup menambah pengetahuan saya, terutama di bidang Investasi. Oh Iya, selain menambah pengetahuan, forum ini juga cukup membuat saya bahagia, kenapa? karena banyak makanan super lezat yang disediakan pada saat makan siang dan coffee break, lumayanlah, ada perbaikan gizi..biasanya makan telor dadar, dan sayur asem serta sebangsanya, jadi bisa makan makanan ala barat yang nama2nya jarang saya dengar dan tidak perduli apapun namanya..asal enak, langsung sikat..hahaha

Inti dari acara ini adalah, bagaimana Indonesia harus memaksimalkan potensi yang ada untuk mengundang Investor ke Indonesia. Mamaksimalkan potensi di sini adalah bagaimana indonesia bisa mempermudah regulasi, memberikan insentif ke pada para investor untuk kepentingan rakyat Indonesia. Saya pribadi berpendapat bahwa investasi adalah faktor penting dan salah satu cara untuk mensejahterakan rakyat. Dengan investasi, lapangan kerja terbuka dan tentunya tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia pun akan meningkat. Tentunya Investasi asing yang masuk tidak mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia, namun dipergunakan secara bijak dengan memperhatikan kelestariannya dan bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya.
Sofyan Djalil, Menko Perekonomian (Dok Pri)

Ada istilah menarik yang saya dengar dari forum investasi ini, istilah tersebut adalah Jokonomics. Apa itu Jokonomics? menurut nara sumber terpercaya, Jokonomics maksudnya adalah ekonomi kerakyatan, sesuai dengan image Pak Jokowi yg sederhana, merakyat, dan  down to earth. Ya, ekonomi yang memihak rakyat, terutama rakyat kecil...walaupun istilah ini juga masih harus di buktikan oleh beliau dalam pemerintahannya yang sedang berjalan..sesuai dengan moto kabinet beliau yakni kerja, kerja, dan kerja.

Akhir kata, semoga semua konsep-konsep yang selalu di utarakan di forum-forum yang terlihat indah, tidak hanya berhenti hanya di atas forum, namun dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia yang menurut saya sampai saat ini masih hidup GGD..alias gitu gitu doang...

Salam!


Solo, 2 Desember 14

Tuesday, August 5, 2014

Iblis Tidak Pernah Putus Asa

Salah satu sifat iblis yg patut dicontoh kita sebagai manusia adalah sifatnya yang tidak pernah putus asa untuk menjerumuskan manusia. Ya, itulah satu-satunya sifat iblis yang bisa kita contoh, selebihnya adalah hal yang menyesatkan. Iblis tidak pernah berhenti dengan menggoda manusia, di manapun kita berada, di gereja, di masjid, di rumah ya dimana mana dia selalu menggoda manusia. Hari ini gagal, besok ia akan datang kembali. Iblis akan terus menggoda sampai kita benar-benar jatuh kedalam dosa, dan binasa.
Iblis pandai memainkan teori konspirasi, terlihat menurut kita baik dan menyenangkan, tetapi akhirnya mengikat kita dan menjadi sebuah dosa. Contoh, kita sering menghadapi stress dengan cara meminum alkohol, pergi ke club malam, bahkan dengan narkoba. Semua itu terlihat baik dimata kita, tapi pada akhirnya semua itu membuat kita menjadi terikat dan tidak bisa lepas dengan hal-hal itu, itulah tipu daya iblis.

Tugas uama dari iblis adalah membuat manusia mabuk, ya mabuk dengan pesta pora dan kenikmatan dunia ini. Iblis akan membuat kita mabuk sampai kita benar-benar tersadar bahwa kita sudah terlambat untuk memperbaiki hidup. Iblis akan berusaha membuat kita mabuk dan lupa akan hari Tuhan yang akan datang dengan tiba-tiba, datang dengan tiba-tiba seperti jerat dimalam hari,

Jika iblis tidak pernah putus asa menggoda kita, maka kita juga tidak boleh putus asa untuk berjalan di jalan Tuhan. Maka Tuhan akan memberi belas kasihannya dengan menolong kita melawan tipu daya iblis. Jatuh kedalam dosa, bukan berarti kiamat. Tetap berjuang melawan Iblis, lawanlah iblis maka iblis akan lari dari hadapan kita.

Pagi ini entah mengapa aku menulis tulisan tentang iblis, tanpa inspirasi dan mengalir begitu saja. Apapun itu, tulisan ini bukan untuk pencitraan diri, tetapi sebagai pengingat untuk diri sendiri agar tetap waspada dengan tipu daya si Iblis.
Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua.

Salam.

Saturday, August 2, 2014

Sayonara Kost-kostan Cilandak...


Hampir setahun aku tinggal di kost-kostan ini, suka duka, tangis tawa, kulalui ditempat ini. Ditempat inilah aku pernah menangis memikirkan wanita, tertawa, bercerita hingga larut malam dengan kekasihku (mantan kekasih maksudnya..hiks..). Ada perasaan haru, karena perjuangan menghadapi hidup ini kulalui sebagian ditempat ini. Pergi meninggalkan tempat ini berarti meninggalkan semua masa lalu, ya masa lalu...namun kenangannya takkan pernah hilang sampai kapanpun

Banjarsari 12 nomer 29...itulah nama tempatnya, ditempat ini aku berjuang menghadapi kehidupan, jatuh bangun menjadi bagian yang tak terpisahkan. Siklus kehidupan yang terkadang pahit, namun banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari semua nya.
Selamat tinggal kost2an,,, kenanganmu takkan pernah terlupakan...
Sayonara....!

Ditulis beberapa jam sebelum meninggalkan kost2an...
jakarta 2 Agustus 2014

Salam..




Sunday, July 27, 2014

Perbincangan Antara Ahli Keuangan dan Petani


Saya membaca kisah seorang ahli keuangan dan petani dari sebuah tulisan dari novelis Brazil, yaitu Palo Coelho. Kira-kira begini ceritanya.

Pada suatu hari seorang ahli keuangan pergi ke sebuah desa dan bertemu dengan seorang petani. Ahli keuangan ini melihat sang petani sedang memancing dan menghasilkan banyak ikan dari hasil tangkapannya itu.

Ahli Keuangan: hasil tangkapan bapak banyak sekali, tapi menurut saya itu tidak cukup untuk modal di hari tua bapak nanti. Bagaimana jika bapak pergi ke kota, bekerja, dan hasilnya anda tabung. Jika sudah banyak, anda bisa menggunakan jasa ahli keuangan untuk menginvestasikan tabungan bapak. Jika investasi bapak berhasil, maka anda akan jadi orang kaya di hari tua bapak, dan pada akhirnya anda tidak perlu bekerja dan anda bisa berlibur disebuah pulau, dan memancing di sebuah danau yang tenang.

Petani: Itulah yang saya kerjakan sekarang, mengapa saya harus bersusah payah dan menunggu bertahun tahun hingga hari tua saya..?



*Cerita ini bisa bermacam macam makna, tapi pesan yang saya tangkap adalah orang begitu rumit untuk mengejar kebahagiaan. Ukuran kebahagiaan berbeda beda dari setiap orang, kita bisa menciptakan kebahagiaan sekarang juga. Hal-hal sederhana bisa menjadi kebahagiaan bagi kita, tidak perlu memikirkan yang belum ada. Nikmatilah dan sukurilah yang ada, sambil menatap kebahagiaan yang lain dengan sabar dan berdoa.

Salam,

Ditulis pada waktu malam takbiran di Kranggan, Bekasi (27 Juli 2014)







Wednesday, May 7, 2014

Kunjungan Singkat ke Taiwan

Hampir tiga tahun lalu tepatnya Agustus 2011, saya meninggalkan Taiwan. Saya mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan Master di bidang bisnis administrasi kala itu dengan beasiswa penuh dari Southern Taiwan University of Technology, dan saya berhasil lulus kurang lebih dua tahun lamanya. Buat saya, Taiwan adalah sebuah kenangan karena berada di negara asing dengan penduduk yang berbeda budaya, serta perjuangan saya yang tidak mudah untuk menyelesaikan gelar Master dan juga bertahan hidup di negara itu. Perjuangan dari mulai belajar keras untuk mengikuti seluruh proses perkuliahan, penyusunan thesis yang tentu saja tidak mudah, sampai dengan bagaimana bertahan hidup dengan uang saku yang diberikan universitas kala itu. Tahun ke dua, yakni 2010, saya ikut bekerja di kafetaria kampus, hanya sekedar untuk menambah uang saku kala itu. Manis, asam, asin, itulah gambaran yang saya alami selama dua tahun di negeri Taiwan kala itu. Semuanya itu adalah kenangan yang tak bisa terlupakan sampai kapan pun juga.
Patung Sun Yat Sen


Setelah sekian lama saya meninggalkan Taiwan, akhirnya saya kembali dapat berkunjung ke negeri itu. Kali ini saya berkunjung ke Taiwan bukan dalam rangka belajar, tetapi dalam rangka training atau pelatihan dari perusahaan tempat saya bekerja saat ini, yakni Chunghwa Telecom. Perasaan campur aduk, seraya bersyukur kepada Tuhan karena diberikan kesempatan kembali datang ke Taiwan. Salah satu yang membuat saya rindu dengan Taiwan adalah keteraturan yang begitu luar biasa, baik sistem transportasi, maupun prilaku manusianya yang cukup tertib dan filosopi hidup mereka. Jika dibandingkan dengan Indonesia, maka sangat jauh bedanya dengan Taiwan, tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum saya terhadap tanah air tercinta ini yang kaya akan sumber daya alam dan budaya nya, tapi masyarakatnya tetap saja masih banyak yang miskin.

Saya berkunjung ke Taiwan selama tujuh hari, tiga hari dalam rangka training, dan sisanya jalan-jalan ke tempat yang dulu pernah saya tinggali, yakni Kota Tainan. Di kota Tainan inilah saya belajar selama kurang lebih dua tahun, dan tidak pernah pulang selama dua tahun sampai saya lulus, demi menghemat uang.
Tanggal 22 kira-kira pukul 3 sore, saya tiba di Taoyuan international Airport, dan langsung meluncur menuju hotel tempat saya menginap. Saya langsung memesan taxi airport dan langsung meluncur ke hotel. Rupanya jarak antara airport dengan hotel cukup jauh, perjalanan memakan waktu lebih dari setengah jam. Mata saya terus menatap argo taksi yang semakin lama semakin naik angkanya, saya mencoba bersikap tenang dengan menikmati panorama taipei yang kala itu diguyur hujan rintik rintik, tapi tetap saja gelisah melihat argo taxi yang terus dan terus naik. Beberapa kali saya bertanya kepada sang supir "hen yuan ma?" yang artinya jauh bangat ya ? dia menjawab "jiou daole? yang artinya bentar lagi nyampe cuy, santai aja lu...dalam hati saya menjawab "muka lu santai.., dari tadi gak nyampe-nyampe". Memang saya salah prediksi, karena saya hanya membawa uang sebesar 2,000 NTD, yang setara dengan 600,000 IDR. Akhirnya hotel yang ditunggu tunggu sampai juga, saya pun membayar taxi dengan harga 1,300 NTD, jantung semakin berdetak kencang, karena uang tinggal tersisa 700 NTD.

Pengamen di stasiun MRT, Taipei

Setiba dihotel, saya langsung ke meja resepsionis, dan bertanya ruangan saya yang mana. Ternyata saya salah masuk hotel, nama nya memang sama yakni Ximen hotel, tapi karena saya di booking kan yang single bed, saya diarahkan oleh petugas hotel untuk berjalan kira kira lima menit dari hotel tersebut. Tiba dihotel tersebut saya langsung mandi, dan beristirahat sejenak.
Sun yat Sen Memorial Hall
Keesokan harinya, saya berangkat menuju perusahaan tempat saya Training, yakni Chunghwa Telecom Taiwan, yang berada di jalan Ai Guo Dong Lu. Dekat dengan Chiang kaisek Memorial Hall, sebuah tempat wisata yang cukup terkenal di Kota Taipei. Sesampai nya di Kantor tersebut, saya pun langsung memberi tahu bahwa saya tidak punya uang yang cukup untuk bertahan hidup di Taiwan selama tujuh hari. Dengan iba, atasan saya pun langsung memberi pinjaman sebesar 5,000 NTD, yang setara dengan 1,500,000 IDR. Hati pun kembali ceria, seraya berkata "thank you, you save my life"

Tidak ada yang istimewa dengan training, biasa biasa saja seperti kuliah saja, mendengarkan orang presentasi menjelaskan tentang bisnis perusahaan lokal dan internasional. Beberapa pengajar terpaksa menjelaskan materi dengan bahasa Inggris, karena bahasa Mandarin saya pas pasan. Banyak juga yang gelagapan, karena bahasa Inggris mereka tidak cukup baik, beda-beda tipis dengan saya.

Di depan kantor pusat Chunghwa telecom, taipei

Hari terakhir training pun, saya menyempatkan bertemu dengan sahabat lama saya yang dulu pernah kuliah di universitas yang sama, yakni Octa teman Indonesia, Fernando, teman dari Peru, dan Ken teman dari Taiwan serta pacarnya.
Keesokan harinya, saya berkeliling ke beberapa tempat wisata seperti Chiang kai sek memorial hall, dan Sun Yat Sen Memorial Hall. Kira-kira pukul 4 sore, saya pun meluncur dengan bus express menuju Tainan, perjalanan kurang lebih memakan waktu 5 jam.

Bertemu dengan sahabat lama di Taipei.

Setibanya di Tainan, saya seperti terhipnotis dengan suasana kota itu yang tidak banyak berubah. Banyak mahasiswa yang berseliweran, serta toko-toko yang tidak pernah sepi hingga larut tengah malam. Setiap langkah kaki begitu berarti, seperti mengenang masa lalu ketika mahasiswa dahulu. Yang paling membuat saya begitu exciting adalah ketika saya menginjakkan kaki di kampus tempat saya kuliah dulu. Ya, kampus ini tidak banyak berubah setelah di tinggal selama kurang lebih tiga tahun. Saya pun bertemu dengan sahabat-sahabat saya di kampus ini, dan berkeliling sejenak melihat-lihat beberapa bagian kampus yang tidak berubah. Kemudian saya menyempatkan diri berkunjung ke asrama mahasiswa, dan disana bertemu dengan teman-teman lama, yang sebagian masih berada di tempat itu. Makanan, minuman, suasana lingkungannya, cukup menghipnotis saya, karena bisa merasakan kembali suasana itu. Tidak lupa, saya pun membeli lu cha atau teh hijau yang cukup terkenal di tempat itu.

Masyarakat menyaksikan pertunjukan tradisional

Ya, itulah salah satu hadiah yang Tuhan berikan kepada saya. Tidak pernah saya membayangkan untuk bisa kembali ke tempat itu, namun saya diberikan kesempatan sekali lagi menikmati suasana Taiwan yang kedua kalinya. Tuhan memang baik, dan pemurah.

Itulah pengalaman singkat saya berada di kota Taipei, Tainan, serta Nantai. Walaupun cukup singkat, namun setiap detik begitu berarti, dan setiap langkah begitu berarti. Kota yang tidak begitu besar, namun tertib, tenang dan memiliki budaya yang unik, yang sedikit banyak perlu kita contoh, terutama disiplin dan keteraturan hidup dalam keseharian mereka.

Salam.
                                                                   

Sunday, March 9, 2014

12 Years a Slave dan Realitas Masa Kini

Film yang di sutradari Steve McQueen, dan dibintangi oleh aktor aktor ulung seperti Brad Pitt, Ciwetel Ejiofol, Michael Fassbender dll menceritakan kisah perbudakan pada jaman pra perang sipil di Amerika Serikat. Cerita dimulai ketika seorang saudagar kulit hitam kaya bernama Solomon Northup, yang memiliki keluarga bahagia di culik dan dijadikan budak. Kehidupannya berubah 180 derajat ketika dia dijadikan budak oleh para saudagar kulit putih di Amerika Serikat. Berbagai penyiksaan dan tekanan hidup dirasakannya bertahun tahun bersama para budak kulit hitam lainnya. Film yang ber genre drama ini benar-benar menguras emosi penonton, karena hampir seluruh alur ceritanya berisi penganiayaan dan penyiksaan terhadap budak kulit hitam. Mereka diperdagangkan seperi sebuah properti yang layak di perjual belikan kepada siapa saja yang sanggup membelinya. Bertahun tahun Solomon Northup menjadi budak, sampai pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang pengawas pekerja berkulit putih, dan juga pejuang kemanusiaan yang bernama Bass (Brad Pitt). Disinilah jalan kebebasannya terbuka, ketika ia menceritakan kepada Bass bahwa ia sebenarnya adalah manusia bebas. Singkat cerita, ia pun terbebas dari perbudakan, dan menemukan kembali istri dan anak-anaknya yang terpisah selama bertahun-tahun.

Sumber: jateng.tribunnews.com
Cerita ini adalah kisah nyata yang disadur dari novel yang berjudul 12 years slave. Film 12 Years a Slave ini memiliki kemiripan dengan film Djanggo Unchained, dan The Butler, yang alur ceritanya mengenai perbudakan kulit hitam. Namun 12 Years a Slave dalam alur ceritanya benar-benar bertema satir dan penuh kesedihan, berbeda dengan Djanggo Unchained dan The Butler yang sedikit memiliki sentuhan humor. Film ini pun menyabet penghargaan piala oscar dari beberapa kategori seperti best Picture, best supporting actress, best adapted screen play. 

Apakah cerita diatas hanya terjadi pada masa lalu, dimana perbudakan masih dilegalkan?, apakah penganiayaan fisik yang diterima kaum lemah hanya terjadi di masa lampau?, ternyata jawabannya tidak. Lihat saja beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, buruh-buruh disekap dan mengalami penyiksaan fiisk dan psikis. Peristiwa dari mulai kasus buruh panci di tangerang, buruh pabrik di Medan, dan pembantu rumah tangga yang disekap baru baru ini telah menyadarkan kita bahwa perbudakan masih terjadi saat ini. Diera modern, dan hukum serta aparatur telah berdiri kokoh, namun ada sisi kelam diera gemerlapnya kemewahan dunia dan perkembangan pengetahuan dan budaya.

Lihat saja, bagaimana orang miskin tidak memiliki akses mendapatkan pendidikan tinggi dan terbaik. Sekolah-sekolah internasional hanya milik orang-orang berduit, beasiswa-beasiswa diberikan hanya sekedar penutup betapa banyaknya kaum miskin yang tidak bisa bersekolah.
Ingat, pendidikan lah yang akan membawa setiap orang meningkatkan taraf hidupnya. Tanpa pendidikan anak tukang becak tetaplah anak tukang becak, anak sopir angkot tetaplah anak supir angkot.
Nothing is change without education!.
Twelve Years a Slave masih sangat relevan dengan potret kehidupan modern saat ini.


Salam Hangat,



Wednesday, December 18, 2013

Desember 18

Tuhan, setiap hari aku berdoa untuk patuh dan melakukan apa yang Kau kehendaki, setiap hari pula aku gagal melakukan perintah Mu.
Rasa takut, dan khawatir membuatku hidup dalam kebimbangan dan kegamangan.
aku berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendakmu, tetapi gagal. Aku berusaha menjadi jujur, namun pada akhirnya aku menjadi pendusta.

Ketika berdoa, malaikat Tuhan dan Iblis ikut mendengar doaku.
Ketika berdoa, Malaikat Tuhan memberikan kelegaan dan kekuatan.
Pun setelah berdoa, iblis bekerja untuk menghancurkan segala doa doa ku yang didengarkannya bersama para malaikat.

Benar Tuhan, benih yang baik harus di tabur di ladang yang baik.
Benih adalah Firman Mu, dan ladang ialah hati kami.
Hati yang bimbang, hati yang takut adalah musuh kebaikan.

Tuhan, seribu kali iblis melawan aku, maka seratus ribu kali aku akan datang kepada Mu meminta kekuatan.
Percayalah Tuhan, aku tidak akan pernah berhenti berjuang menjadi garam dan terang dunia.

Iblis datang untuk menghancurkan dan membinasakan...
Tetapi Tuhan datang untuk menyelamatkan orang yang terhilang.

Sahabat datang dan pergi, sahabat seperti tiupan angin yang setiap saat kita rasakan hembusannya, dan lenyap seketika.
Tetapi Tuhan tetap disampingku.


Thursday, October 31, 2013

Don't Judge a Book From It's Cover

Jangan menilai sesuatu dari penampilannya saja, itulah kira-kira terjemahan dari judul tulisan ini. Pepatah tersebut benar-benar terbukti ketika saya sedang berada di sebuah toko sepatu di Pondok Labu. Seorang lelaki tua masuk ke toko dengan pakaian lusuh, berwarna hitam dan tanpa menggunakan alas kaki. Tanpa ada perasaan minder, dan penuh keyakinan lelaki tua itu memasuki toko bak seorang panglima perang. Lelaki tua itu sebenarnya ingin menukar sepatu yang telah di beli beberapa hari sebelumnya untuk anaknya yang duduk dikelas 2 SMK. Karena ukuran dan warna yang tidak sesuai dengan permintaan sang anak tersebut, maka sang kakek tua itu harus kembali ke toko untuk menukar sepatu itu. Namun sayang seribu sayang, karena jenis sepatu yang diinginkan sang anak harganya lebih mahal, sang pramuniaga mengatakan tidak bisa di ganti dengan speck dan harga yang berbeda. "Kalau mau bapak beli satu lagi" begitulah kalimat dari sang pramuniaga tersebut. Tanpa pikir panjang, pak tua tersebut langsung menuju lorong sepatu yang diinginkannya dan menunjuk dengan penuh keyakinan, "itu yang saya mau, sepatu warna hitam dengan tali!"begitulah kira-kira kalimatnya. Lalu ia membawa dua pasang sepatu yang ia beli dengan rasa bangga, sebelum pergi bapak tersebut menyalami semua pramuniaga yang ada disitu, termasuk menyalami saya juga. Kocak dan membuat kita tersenyum pada saat itu. Diam-diam saya mengabadikan moment langka tersebut dan memfoto pak tua itu.

Sang kakek yang sedang bingung memilih sepatu untuk anaknya.

Saya terenyuh dan simpati dengan bapak tua itu, demi keinginan anaknya ia rela merogoh kocek yang tidak sedikit. Saya tidak iba dengan bapak tua tersebut, karena ia bukanlah orang miskin, ia orang yang "kaya" demi anaknya yang membutuhkan sepatu. 

Wajah lusuh, pakaian lusuh, dan tanpa alas kaki memasuki toko, siapa sangka ia membeli dua pasang sepatu demi sang anak. Orang yang "kelihatannya miskin" tetapi berhati mulia dan "kaya". 
Coba lihat di dalam gedung-gedung pencakar langit, orang-orang dengan pakaian berdasi, dan wangi parfum semerbak diseluruh tubuhnya. Orang-orang yang berpendidikan tinggi dan memiliki kedudukan tinggi tega mengambil hak orang lain, tega menindas orang kecil dengan melakukan korupsi dan dan tidak terpuji yang merugikan orang lain.

Saya belajar dari sang kakek tua tersebut beberapa hal:
1. Menilai orang bukanlah menilai dari luar nya saja, bahasa kerennya don't judge a book from it's cover.
2. Apapun yang kita miliki berbanggalah! pak tua tersebut berpakaian lusuh, tanpa alas kaki, tapi wajahnya tegak berdiri tanpa rasa minder sedikitpun.
3. Belajar bukan hanya dari buku-buku tebal di bangku kuliah, dan dari profesor -profesor saja, tetapi sering kali Tuhan memberikan kita ilmu dan pelajaran dari orang yang pendidikannya lebih rendah dari kita, dan orang kecil yang dikucilkan dunia ini, sebuah pelajaran dari Tuhan untuk kita yang merasa hebat.
4. Siapapun kita, belajarlah dari semua orang!

Sekian dan terima kasih.

Salam musim hujan!

Sunday, October 13, 2013

Malala Yousafzai, a little teacher

Malala Yousafzai (www.canadian progressiveworld.com)


Nama Malala menjadi nama yang sangat populer saat ini yang menghiasi berbagai media masa di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Malala dijadikan simbol perlawanan terhadap penindasan hak dan martabat kaum wanita, terutama hak mendapatkan pendidikan. Perjuangan dan tulisan-tulisannya membuat gerah pihak Taliban yang tidak suka dengan aktivitas Malala, puncaknya dia di tembak di bagian kepala saat menaiki sebuah bis di Pakistan. Nyawanya pun dapat diselamatkan setelah mendapatkan perawatan intensif di Inggris, kini Malala telah pulih dan siap melanjutkan perjuangannya untuk membela kaumnnya mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan. Respon positif dari warga dunia, membuat Malala mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi seperti Sakharov Prize, penghargaan tertinggi di bidang hak asasi manusia dan kebebasan berpikir dari Uni Eropa, ia juga menerima Reach All Women in War (RAW), Anna Politkovskaya Award 2013, hadiah perdamaian anak internasional, The Oklahoma City Memorial and Museum di AS, dan berbagai penghargaan lainnya yang ia terima (kompas.com).

Melihat perjuangan wanita cilik berumur 16 tahun ini, saya begitu terkesan dan begitu tidak percaya ketika membaca riwayat Malala dan perjuangannya yang sangat luar biasa di sebuah negara Pakistan yang masih dilanda perang saudara antar pihak pemerintah dan opisisi, bahkan antar ras. Tidak bermaksud untuk melebih-lebihkan alias hiperbola, saya  merasa malu sendiri dan menjadi refleksi buat diri sendiri yang sampai detik ini belum melakukan sesuatu yang berarti bahkan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Indonesia juga memiliki pejuang wanita yang hebat seperti R.A. Kartini, seorang wanita berpendidikan dan putri seorang bangsawan yang mendobrak mitos dan budaya patrenalisme Jawa pada masa itu, yang melarang wanita untuk bersekolah dan memiliki hak yang sama dengan pria. Perjuangan ditengah keterbatasannya tidak membuatnya ciut bahkan menjadi pemicu untuk terus berjuang dan berkarya. Kini, perjuangan sang Kartini pun sudah dinikmati jutaan kaum wanita dinegeri ini, dan tetap menjadi sebuah simbol pergerakan perjuangan kesetaraaan wanita dan pria.

Malala Yousafzai dan R.A.Kartini adalah dua wanita yang bergerak menembus batas tantangan, hambatan, yang hanya bermodalkan ide dan niat baik, serta kerelaan berkorban untuk sebuah tujuan mulia yaitu membebaskan kaumnya dari belenggu perbudakan primordial.

Cerita diatas merupakan refleksi buat saya, dan mungkin kita semua untuk berjuang melawan segala tantangan yang menghambat kita untuk maju. Keterbatasan bukanlah sebuah alasan untuk melangkah kedepan. Malala bukanlah wanita super yang kuliah di Harvard Business School, bukan pula wanita yang dilatih oleh pasukan khusus untuk mempertahankan diri dari serangan kaum milisi, tetapi ia memulai tujuan besarnya dengan langkah kecil, yaitu mengajar...

Salam.